Muhammad Risky Pratama, seorang anak laki-laki berusia 12 tahun, menemukan harapan baru untuk mewujudkan mimpi dan cita-citanya setelah menjadi siswa Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 2 Medan. Kini, hidup Risky berubah drastis.
Dulu, Risky menghabiskan hari-harinya dengan mengayuh sepeda puluhan kilometer untuk menjajakan ikan segar hasil tangkapan laut di kawasan Bagan Deli, Kota Medan, demi membantu memenuhi kebutuhan keluarga.
Penghasilan Tak Menentu
“Kadang (sehari) Rp30 ribu dapatnya, paling banyak dikasih Rp90 ribu, kalau habis semua (ikannya),” kata Risky, Selasa (23/6).
Datang dari keluarga sederhana, Risky yang memiliki tiga orang adik dirawat sejak kelas 4 SD oleh kakeknya, Salamuddin, dan neneknya, Masitah. Ibu Risky pergi merantau bekerja ke luar daerah, sedangkan ayahnya sudah berkeluarga lagi dan tinggal cukup jauh, sehingga Risky jarang bertemu dengannya.
Dengan penghasilan tersebut, Salamuddin kesulitan memenuhi kebutuhan 13 anggota keluarga yang menjadi tanggungannya, termasuk untuk biaya sekolah Risky.
Tangis Haru Sang Nenek
Masitah (55) mengaku sangat bersyukur dengan kehadiran program Sekolah Rakyat, yang menjadi asa bagi Risky untuk dapat memperoleh lingkungan yang lebih baik dalam mengenyam pendidikan.
“Dulu saya menangis, kenapa? Karena saya tak akan mampu menyekolahkan dia (Risky). Karena dia bilang, cita-cita awak ini nek, apa bisa awak sekolah, nah itu saya menangis memang. Tapi kalau sekarang ini saya menangis, tapi menangis bahagia,” tutur Masitah.
Masitah menilai, Risky banyak berubah semenjak menjalani pendidikan di Sekolah Rakyat, mulai dari kemandirian, kepercayaan diri, hingga lebih rajin beribadah.
“Bukan lagi ada perubahan, jauh kali, bilangkan jauh kali lah. Perhatiannya kalau pulang jauh lah dia, tidak sebelumnya dulu mau melalak (keluyuran), kalau sekarang melalak arahnya ke musala sana atau masjid,” ujarnya.
Dukungan Kakek
Sang kakek Salamuddin (63), menyatakan bahwa meski berjualan ikan adalah keinginan cucunya sendiri, namun Risky tetap harus melanjutkan sekolah.
“Kalau penghasilan lumayan juga, cuma kan kita kan sayang sekolahnya, nggak bisa sekolah itu aja, maka kami kerahkan ini supaya kami semangatkan dia untuk sekolah, ini supaya dia terdidik, menjadi orang,” kata Salamuddin.
Mimpi Menjadi Tentara
Risky sendiri mengaku senang dengan fasilitas di Sekolah Rakyat, yang mendukung cita-citanya menjadi tentara.
“Dulu saya enggak pandai baca, Pak, jadi saya pandai diajarin guru, wali asuh, wali asrama. Enggak pandai niat salat, niat wudhu, (sekarang) bisa pandai,” pungkas Risky.



