Tinggalkan Jakarta, Anak Muda Mengabdi di Transmigrasi Papua
Anak Muda Tinggalkan Jakarta untuk Transmigrasi Papua

Dua mahasiswi memilih meninggalkan hiruk-pikuk Jakarta untuk mengabdi di kawasan transmigrasi Papua. Nabilah Khansa Islam Arsyi dari Universitas Brawijaya dan Debora Angelica Pardede dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) bergabung dalam Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 2026, program Kementerian Transmigrasi yang mengirimkan 1.476 pemuda ke 53 kawasan transmigrasi di seluruh Indonesia.

Belajar Langsung dari Masyarakat Klamono-Segun

Nabilah ditugaskan di Klamono-Segun, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya. Baginya, TEP adalah kesempatan belajar bersama masyarakat yang memiliki potensi besar. "Saya ingin hadir bukan hanya sebagai peserta, tetapi juga sebagai pribadi yang siap mendengar, berkolaborasi, dan berkontribusi," ujarnya pada Selasa (28/7/2026). Keinginannya muncul dari dorongan melihat langsung kehidupan warga transmigran yang membangun hidup dari nol.

Mahasiswi yang biasa tinggal di Jakarta Selatan ini sadar akan perbedaan budaya dan tantangan di lapangan. Namun, ia justru memandangnya sebagai bagian proses belajar. "Kalau nantinya menghadapi kesulitan atau merasa lelah, saya akan kembali mengingat tujuan awal mengikuti program ini. Saya percaya komunikasi yang baik dan saling mendukung dalam tim menjadi kunci," katanya.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Momiwaren dan Pendampingan Ekonomi Kreatif

Debora Angelica Pardede, asal Jakarta Timur, mendapat tugas di Momiwaren, Kabupaten Manokwari Selatan, Papua Barat. Ia menganggap TEP sebagai kesempatan emas untuk terlibat langsung dalam pengembangan daerah. "Saya ingin menjadi bagian dari generasi muda yang berani melangkah ke daerah yang masih membutuhkan perhatian, menggali potensi yang dimiliki, dan meninggalkan manfaat bagi masyarakat setempat," ungkap Debora.

Bersama timnya, Debora akan melakukan pendampingan bidang ekonomi kreatif, mengidentifikasi tantangan sarana dan prasarana, serta mengkaji rantai pasok dan peluang pengembangan potensi lokal. "Kami tidak hanya melakukan pendampingan, tetapi juga ingin mengidentifikasi berbagai hambatan di lapangan. Harapannya, hasil yang kami susun dapat menjadi masukan bagi pemerintah dalam mengembangkan kawasan transmigrasi," jelasnya.

Peta Jalan Pembangunan dari Kawasan Transmigrasi

Melalui TEP 2026, para mahasiswa membawa bekal ilmu untuk menghadirkan gagasan dari pengalaman langsung. Temuan dan pemetaan sosial ini diharapkan menjadi dasar program pembangunan yang sesuai kebutuhan masyarakat. Langkah ini merupakan ikhtiar membangun Indonesia dari kawasan transmigrasi sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru.

Program ini juga didukung oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang membekali para patriot pemuda dengan pemahaman tentang iklim Indonesia, seperti diberitakan sebelumnya. Dengan bekal tersebut, para peserta diharapkan mampu merumuskan solusi yang adaptif terhadap kondisi geografis setempat.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga