Mahasiswa Iran Kembali Turun ke Jalan di Tengah Ketegangan dengan Amerika Serikat
Para mahasiswa di Iran kembali menggelar unjuk rasa pada Minggu (22/2) waktu setempat, di tengah kekhawatiran yang semakin meningkat akan terjadinya perang dengan Amerika Serikat (AS). Aksi ini terjadi setelah perundingan nuklir antara kedua negara belum membuahkan hasil yang konkret, menambah ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Unjuk Rasa Pro dan Antipemerintah Berlangsung Serentak
Unjuk rasa mahasiswa ini berlangsung menyusul aksi peringatan untuk para korban tewas dalam unjuk rasa antipemerintah sebelumnya, yang digelar di kampus-kampus setempat pada Sabtu (21/2). Dilaporkan, aksi pro-pemerintah dan antipemerintah terjadi secara bersamaan, menciptakan situasi yang tegang di beberapa universitas di ibu kota Teheran.
Kantor berita Fars, yang berafiliasi dengan pemerintah Iran, merilis sejumlah video pada Minggu (22/2) yang menampilkan kerumunan puluhan orang melambaikan bendera Iran dan membawa foto-foto peringatan di sejumlah universitas. Salah satu video menunjukkan kerumunan demonstran di kompleks Universitas Teknologi Sharif yang meneriakkan slogan "Matilah Shah", merujuk pada monarki yang digulingkan oleh Revolusi Islam tahun 1979.
Ketegangan Meningkat di Kampus-Kampus Teheran
Laporan kantor berita Fars menyebut telah terjadi "ketegangan" di setidaknya tiga universitas di Teheran, di mana beberapa mahasiswa meneriakkan slogan-slogan antipemerintah. Demonstran di Universitas Teknologi Sharif terlibat keributan dengan kelompok demonstran lainnya, dengan sejumlah pria berseragam hadir di tengah-tengah mereka.
Media Iran International, yang berbasis di luar negeri dan dicap sebagai organisasi "teroris" oleh pemerintah Iran, membagikan video di media sosial yang menunjukkan para mahasiswa mengibarkan bendera pra-revolusi di Universitas Teknologi Sharif. Video-video unjuk rasa di sejumlah lembaga pendidikan tinggi lainnya juga dibagikan oleh Iran International.
Latar Belakang Ketegangan AS-Iran
Unjuk rasa ini terjadi dalam konteks ketegangan yang lebih luas antara Iran dan AS. Presiden AS Donald Trump awalnya mendukung para demonstran Iran dan mengancam akan melakukan intervensi atas nama mereka ketika otoritas Teheran melancarkan operasi penindakan brutal. Namun, ancaman Trump kemudian beralih ke program nuklir Iran, yang diyakini Barat bertujuan untuk mengembangkan senjata atom.
Washington dan Teheran sejak saat itu telah kembali ke meja perundingan, tetapi pada saat bersamaan, Trump juga meningkatkan pengerahan militer besar-besaran di kawasan Timur Tengah. Langkah ini dimaksudkan untuk menekan Iran agar mencapai kesepakatan dalam perundingan dengan AS, namun justru memicu kekhawatiran akan eskalasi konflik.
Unjuk Rasa Sebelumnya dan Tantangan bagi Pemerintah
Sebelumnya, unjuk rasa pada Desember tahun lalu yang awalnya dipicu oleh kesulitan ekonomi di Iran, dengan cepat meluas menjadi demo antipemerintah. Aksi tersebut menandai salah satu tantangan terbesar bagi kepemimpinan ulama Teheran dalam beberapa tahun terakhir, menunjukkan ketidakpuasan publik yang mendalam terhadap kondisi negara.
Dengan unjuk rasa mahasiswa yang kembali muncul, situasi di Iran semakin kompleks. Para analis memperingatkan bahwa kombinasi tekanan ekonomi, ketegangan internasional, dan protes domestik dapat menciptakan krisis yang lebih dalam bagi pemerintah Iran di masa mendatang.