Pemkot Cilegon Fokuskan Rp 18 Miliar untuk Perbaikan Infrastruktur Sekolah
Pemerintah Kota Cilegon telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp 18 miliar khusus untuk perbaikan infrastruktur sekolah di wilayahnya. Wali Kota Cilegon, Robinsar, bersama Wakil Wali Kota Fajar Hadi Prabowo, menegaskan bahwa program ini menjadi prioritas utama dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan.
Alokasi Anggaran yang Lebih Efisien
Robinsar menjelaskan bahwa sebelumnya, anggaran untuk perbaikan infrastruktur sekolah hanya berkisar Rp 7-8 miliar dari total anggaran pendidikan dasar sebesar Rp 60,5 miliar. Dari jumlah tersebut, Rp 40 miliar dialokasikan untuk gaji pegawai dan Rp 20,5 miliar untuk infrastruktur serta kegiatan lainnya.
"Awalnya, dari Rp 20,5 miliar, hanya sekitar Rp 8 miliar yang ditujukan untuk pembangunan, sementara Rp 12,5 miliar digunakan untuk agenda seremonial," ujar Robinsar. "Namun, melalui efisiensi dan pemilihan program yang tepat, kami mengalihkan fokus menjadi Rp 18 miliar untuk infrastruktur dan hanya Rp 2 miliar untuk seremonial."
Target Penyelesaian dalam 4 Tahun
Pemkot Cilegon menargetkan perbaikan infrastruktur sekolah yang rusak dapat diselesaikan dalam kurun waktu 4 tahun masa kepemimpinan Robinsar dan Fajar. Robinsar menyatakan bahwa perbaikan akan disesuaikan dengan tingkat urgensi kerusakan yang dialami oleh masing-masing sekolah.
"Kami sudah memetakan data dan berkomitmen untuk menyelesaikannya dalam 4 tahun. Jika ada penambahan kerusakan selama perjalanan, kami akan menyesuaikan rencana," tegasnya.
Klasifikasi Kerusakan Sekolah
Wakil Wali Kota Fajar Hadi Prabowo mengungkapkan bahwa terdapat ratusan sekolah di Cilegon yang mengalami kerusakan, dari total 242 sekolah yang meliputi TK, SD, dan SMP. Sekolah-sekolah tersebut telah diklasifikasikan menjadi tiga kategori berdasarkan tingkat kerusakannya:
- Rusak berat: Sekitar 20 sekolah
- Rusak sedang: Sekitar 49 sekolah
- Rusak ringan: Sekitar 200 sekolah
Fajar menekankan bahwa prioritas perbaikan akan diberikan kepada sekolah yang mengalami kerusakan parah. "Kami tidak ingin sekolah yang rusak sedang menjadi rusak berat karena penanganan yang terlambat," katanya.
Kolaborasi dengan Universitas dan Media
Untuk memastikan akurasi data, Pemkot Cilegon bekerja sama dengan Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) dalam menganalisis kondisi sekolah. Selain itu, Fajar mengajak awak media untuk aktif melaporkan infrastruktur sekolah yang tidak layak.
"Kami menyebut ini sebagai pentahelix dengan media. Mata kami hanya dua, tetapi dengan peran media, kami yakin penanganan akan lebih cepat," imbuhnya. Ia juga meminta laporan dari masyarakat dan guru untuk mempercepat proses perbaikan.
Dampak pada Kualitas Pembelajaran
Robinsar menegaskan bahwa perbaikan infrastruktur sekolah sangat penting untuk menunjang proses pembelajaran. "Bagaimana anak-anak bisa belajar dengan baik jika tiba-tiba atap bocor? Itu target kami dan akan kami selesaikan," ujarnya. Program ini diharapkan dapat meningkatkan sumber daya manusia melalui sarana dan prasarana pendidikan yang memadai.
Dengan anggaran yang signifikan dan rencana yang terstruktur, Pemkot Cilegon optimis dapat menciptakan lingkungan belajar yang lebih baik bagi siswa-siswi di kota tersebut.
