Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menyatakan bahwa pesantren akan menjadi lembaga pendidikan yang banyak dicari di era kecerdasan buatan (AI). Hal ini disampaikan dalam acara Puncak Peringatan Hari Santri Nasional 2025 di Jakarta, Minggu (22/10/2025).
Pesantren dan Tantangan Era AI
Menurut Menag, di tengah perkembangan teknologi yang pesat, pesantren justru memiliki keunggulan tersendiri. Pesantren tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga membentuk karakter dan moral santri. Hal ini menjadi kebutuhan mendesak di era AI yang seringkali menghilangkan sentuhan kemanusiaan.
Pendidikan Karakter sebagai Kunci
Menag menekankan bahwa pendidikan karakter yang kuat dari pesantren akan menjadi modal utama dalam menghadapi tantangan global. “Pesantren adalah benteng moral bangsa,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa lulusan pesantren tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki integritas dan empati yang tinggi.
Dukungan Pemerintah untuk Pesantren
Pemerintah terus berupaya meningkatkan kualitas pesantren melalui berbagai program, seperti digitalisasi pembelajaran dan pelatihan guru. Menag berharap pesantren dapat beradaptasi dengan perkembangan teknologi tanpa meninggalkan nilai-nilai tradisionalnya. “Kita ingin pesantren menjadi pusat unggulan pendidikan yang relevan di era modern,” jelasnya.
Prospek Pesantren ke Depan
Dengan semakin banyaknya orang tua yang khawatir akan dampak negatif AI terhadap anak-anak mereka, pesantren dipandang sebagai solusi. Selain itu, pesantren juga mulai membuka program-program vokasi yang relevan dengan kebutuhan industri, sehingga lulusannya siap bersaing di pasar kerja.
Menag optimistis bahwa pesantren akan semakin diminati di masa depan. “Pesantren adalah jawaban atas krisis moral yang melanda generasi muda,” pungkasnya.



