Wakil Ketua MPR Dorong Partisipasi Perempuan di STEM untuk Genjot Daya Saing Indonesia
Wakil Ketua MPR Dorong Perempuan di STEM untuk Daya Saing RI

Wakil Ketua MPR Dorong Partisipasi Perempuan di STEM untuk Genjot Daya Saing Indonesia

Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat, menegaskan bahwa peningkatan partisipasi perempuan dalam bidang science, technology, engineering, and mathematics (STEM) merupakan langkah strategis untuk memperkuat daya saing dan inovasi Indonesia di masa depan. Ia menyoroti bahwa sektor STEM berperan sebagai fondasi utama bagi pembangunan ekonomi berbasis pengetahuan dan transformasi digital yang tengah berlangsung.

Kesenjangan Gender yang Masih Terjadi di Bidang STEM

Meskipun pentingnya peran perempuan diakui, data menunjukkan bahwa kesenjangan gender dalam bidang STEM masih cukup signifikan, baik dalam pendidikan maupun dunia kerja. Menurut data International Labour Organization (ILO) pada tahun 2024, perempuan hanya mencakup sekitar 35% dari lulusan STEM di Indonesia. Lebih memprihatinkan lagi, hanya sekitar 8% perempuan yang benar-benar bekerja di sektor tersebut, mengindikasikan bahwa sebagian besar perempuan dengan latar belakang pendidikan STEM tidak melanjutkan karier di bidang sains dan teknologi.

"Data ini mengungkapkan bahwa persoalan utamanya bukan terletak pada kemampuan akademik perempuan. Banyak perempuan memiliki prestasi yang sangat baik di bidang sains dan matematika, namun mereka masih menghadapi hambatan sosial dan stereotip gender yang membatasi partisipasi mereka," ujar Lestari dalam keterangannya pada Senin, 9 Maret 2026.

Hambatan Sosial dan Upaya Perluasan Partisipasi

Anggota Komisi X DPR RI ini mengungkapkan bahwa hambatan tersebut sering kali muncul sejak usia dini, dipengaruhi oleh ekspektasi sosial yang membentuk kepercayaan diri anak perempuan terhadap bidang sains dan teknologi. Tanpa disadari, kondisi ini menyebabkan banyak perempuan tidak memandang STEM sebagai jalur karier yang realistis bagi mereka. Di sisi lain, kebutuhan tenaga kerja berbasis teknologi terus meningkat seiring dengan perkembangan ekonomi digital dan kecerdasan buatan.

Melihat kondisi ini, Lestari menilai pentingnya memperluas partisipasi perempuan dalam STEM. Dengan demikian, Indonesia dapat memiliki sumber daya manusia yang memadai untuk menghadapi perubahan global. "Kesetaraan perempuan di bidang STEM bukan sekadar isu keadilan sosial. Ini adalah kepentingan strategis bangsa. Jika setengah potensi intelektual bangsa tidak diberi ruang yang sama untuk berkembang, maka kita kehilangan peluang besar untuk memperkuat inovasi dan daya saing nasional," tegasnya.

Dorongan untuk Sistem Pendidikan yang Inklusif

Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem itu mendorong agar sistem pendidikan dan kebijakan pengembangan sumber daya manusia memberikan perhatian lebih pada penguatan partisipasi perempuan di bidang sains dan teknologi. Ia menekankan bahwa sekolah dan perguruan tinggi perlu menciptakan lingkungan belajar yang inklusif, memberikan ruang bagi perempuan untuk aktif dalam riset, diskusi ilmiah, dan kepemimpinan akademik.

Menurutnya, pembangunan ekosistem pendidikan yang inklusif akan membuka peluang lebih luas bagi generasi muda perempuan untuk berkontribusi dalam inovasi, teknologi, dan ilmu pengetahuan. "Dengan membuka akses yang lebih luas bagi perempuan di bidang STEM, Indonesia tidak hanya mewujudkan keadilan gender, tetapi juga memperkuat fondasi pembangunan sumber daya manusia yang inovatif dan berdaya saing," pungkas Lestari Moerdijat.