Siswa SD di NTT Bunuh Diri karena Tak Mampu Bayar Uang Sekolah dan Beli Perlengkapan
Kasus tragis siswa Sekolah Dasar (SD) di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang melakukan aksi bunuh diri belum lama ini masih terus menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat Indonesia. Insiden memilukan ini terjadi karena ketidakmampuan siswa tersebut untuk membayar uang sekolah serta membeli perlengkapan sekolah dasar seperti buku dan pena.
Peristiwa ini telah menimbulkan keprihatinan yang mendalam dan menyedot perhatian serius dari berbagai kalangan. Pasalnya, kasus ini menambah daftar kelam kasus bunuh diri pada anak-anak di Indonesia, yang semakin mengkhawatirkan.
Sosiolog UGM Soroti Kegagalan Struktural Negara
Sosiolog dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Andreas Budi Widyanta, S.Sos., M.A., yang kerap disapa Ab, memberikan pandangan kritis terkait tragedi ini. Ia menegaskan bahwa peristiwa tersebut tidak boleh dilihat semata-mata sebagai persoalan individu atau keluarga.
Menurutnya, ini adalah tanda nyata dari kegagalan struktural negara dalam melindungi hak-hak dan kesejahteraan anak-anak. Andreas Budi Widyanta menjelaskan bahwa sistem pendidikan dan perlindungan sosial seharusnya mampu mencegah anak-anak terjebak dalam situasi yang begitu berat hingga memilih jalan bunuh diri.
"Ini bukan sekadar masalah personal, tetapi mencerminkan bagaimana negara gagal memberikan jaminan akses pendidikan yang terjangkau dan layak bagi semua anak, terutama di daerah-daerah tertinggal," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa tekanan ekonomi yang dihadapi keluarga, ditambah dengan kurangnya dukungan dari pemerintah, dapat menciptakan lingkungan yang sangat berisiko bagi kesehatan mental anak. Kasus di Ngada ini, menurutnya, harus menjadi alarm bagi pemerintah untuk segera memperbaiki kebijakan pendidikan dan perlindungan anak.
Masyarakat pun diharapkan lebih peka dan proaktif dalam mendukung anak-anak yang mungkin mengalami kesulitan serupa, agar tragedi seperti ini tidak terulang lagi di masa depan.