Jakarta - Kegelisahan terhadap sistem pendidikan yang terlalu fokus pada hafalan, nilai, dan ujian mendorong Lena Karolina untuk mendirikan Sekolah Eksplorasi di Jakarta Timur. Bersama Yudha Dwi Hapsara, ia menciptakan ruang belajar alternatif yang menekankan eksplorasi diri dan keterhubungan dengan kehidupan sekitar. Menurut Lena, pendidikan seharusnya mengajarkan kemandirian, interaksi sosial, dan kontribusi bagi masyarakat, bukan sekadar menjejalkan materi dan rumus.
Konsep Pembelajaran di Sekolah Eksplorasi
Sekolah Eksplorasi menerima peserta didik usia SMP dan SMA dengan format kelas mikro yang hanya berisi 12 hingga 15 anak per kelas. Format ini memungkinkan setiap anak mendapatkan perhatian lebih dan bimbingan yang personal. Dalam proses pembelajaran, anak-anak diajak menjelajahi tiga ruang eksplorasi:
- Ruang Realitas: Memahami isu-isu sekitar dan mengolahnya menjadi karya nyata.
- Ruang Peran: Mencoba berbagai peran dalam kehidupan, seperti karier, rumah tangga, sekolah, warga negara, hingga peran ekologis.
- Ruang Potensi Diri: Mengenali kepribadian, minat, bakat, serta keresahan pribadi.
Selain itu, sekolah juga memfasilitasi ijazah kesetaraan bagi peserta yang membutuhkannya.
Perjuangan Merancang Kurikulum yang Tepat
Yudha Dwi Hapsara, rekan Lena sekaligus pendiri Sekolah Eksplorasi, mengungkapkan bahwa butuh waktu bertahun-tahun untuk merancang desain pembelajaran yang tepat. Keduanya sepakat pentingnya melihat peserta didik sebagai manusia utuh, bukan sekadar komponen mesin pertumbuhan ekonomi. Perspektif ini menentukan arah kurikulum yang dibuat.
“Apakah dia itu sebagai manusia utuh, yang nantinya akan menjalani berbagai peran kehidupan seperti yang kita lakukan, atau kita hanya melihat dia sebagai salah satu komponen dari mesin pertumbuhan ekonomi negara di masa depan? Dua perspektif itu saja membuat rancangan belajarnya jadi berbeda. Kami memilih jalan untuk menerima anak-anak ini sebagai manusia yang utuh,” jelas Yudha.
Memanusiakan Manusia Melalui Pendidikan
Sebagai co-founder, kepala sekolah, dan fasilitator di Sekolah Eksplorasi, Lena tidak hanya mengajar, tetapi juga memperjuangkan dan mempromosikan alternatif pendidikan di Indonesia. Meskipun tidak semua orang memahami rancangan belajar yang ia terapkan, Lena tetap maju dengan keyakinan bahwa anak-anak layak mendapat pendidikan yang tidak sekadar menekankan angka, nilai, dan hafalan, tetapi juga memanusiakan mereka.
“Kalau dianggap misalkan ini seperti main-main, ya main itu adalah suatu proses belajar. Masyarakat harus melihat bahwa proses pembelajaran tidak hanya sekolah yang hanya akademis. Harus ada yang baru, dan harus ada tumbuh hal alternatif yang mungkin dianggap tidak serius. Tapi justru dengan alternatif ini, ruang keseriusan kami adalah bagaimana manusia dalam dunia pendidikan itu benar-benar dimanusiakan,” pungkas Lena.



