Krisis Kognitif Anak di Sekolah: Pendidikan Gaya Bank ala Paulo Freire
Krisis Kognitif Anak: Pendidikan Gaya Bank Freire

Fenomena Menghafal Tanpa Memahami

Setiap tahun, jutaan anak Indonesia duduk di ruang kelas untuk mendengarkan seorang guru berbicara menuangkan fakta dan rumus ke dalam kepala mereka. Anak-anak mendengarkan, mencatat, menghafal, lalu mengulanginya di atas kertas ujian. Begitu ujian selesai, sebagian besar anak melupakan apa yang telah mereka hafal. Fenomena ini menjadi cerminan dari krisis kognitif anak di sekolah.

Pandangan Paulo Freire tentang Pendidikan Gaya Bank

Paulo Freire, seorang filsuf pendidikan Brasil, memandang praktik ini sebagai pendidikan bergaya bank. Dalam konsep ini, guru adalah subjek pemilik pengetahuan, sementara anak ditempatkan sebagai objek seperti celengan kosong yang harus diisi. Anak tidak diajak berpikir kritis, melainkan hanya menerima dan menyimpan informasi.

Dampak Krisis Kognitif pada Siswa

Akibatnya, kemampuan berpikir analitis dan kreatif anak terhambat. Mereka terbiasa menghafal tanpa memahami konteks, sehingga sulit menerapkan pengetahuan dalam kehidupan nyata. Hal ini juga memicu rendahnya minat baca dan rasa ingin tahu, karena pembelajaran terasa monoton dan tidak bermakna.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Solusi: Mengubah Paradigma Pembelajaran

Untuk mengatasi krisis ini, perlu ada perubahan paradigma dari pembelajaran berpusat pada guru menjadi berpusat pada siswa. Guru perlu berperan sebagai fasilitator yang mendorong diskusi, eksplorasi, dan pemecahan masalah. Kurikulum juga harus dirancang agar relevan dengan kehidupan sehari-hari, sehingga siswa dapat melihat manfaat langsung dari apa yang mereka pelajari.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga