Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengungkapkan alasan mengapa nilai literasi pada Tes Kemampuan Akademik (TKA) siswa Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) lebih tinggi dibandingkan dengan siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) sederajat. Kepala Pusat Asesmen Pendidikan Kemendikdasmen, Rahmawati, menjelaskan bahwa terdapat dua faktor utama yang menyebabkan fenomena tersebut.
Faktor Teknis dan Kesiapan Siswa
Menurut Rahmawati, faktor pertama adalah aspek teknis dalam pelaksanaan TKA. Ia menyampaikan hal ini dalam sebuah acara di Kantor BKPDM pada Selasa (26/5/2026). "Ini ada dua hal, yang pertama aspek teknis," ujarnya.
Faktor kedua adalah tingkat kesiapan siswa SD dan SMP yang lebih baik dibandingkan dengan siswa SMA sederajat dalam menghadapi TKA tahun 2025. Rahmawati menambahkan bahwa jadwal pelaksanaan TKA untuk jenjang SMA yang terlalu mepet juga menjadi salah satu penyebab rendahnya nilai literasi di tingkat tersebut. "TKA SMA terlalu mepet," katanya.
Lebih lanjut, Rahmawati menjelaskan bahwa perbedaan tingkat kesiapan ini dipengaruhi oleh berbagai hal, termasuk kurikulum dan metode pembelajaran yang diterapkan di masing-masing jenjang. Siswa SD dan SMP dinilai lebih terbiasa dengan soal-soal literasi yang diujikan, sementara siswa SMA menghadapi materi yang lebih kompleks dan waktu persiapan yang lebih singkat.
Kemendikdasmen berkomitmen untuk terus mengevaluasi pelaksanaan TKA agar dapat mengukur kemampuan akademik siswa secara lebih akurat. Evaluasi ini mencakup aspek teknis, kesiapan siswa, dan penyesuaian jadwal ujian untuk setiap jenjang pendidikan.



