Kompas.com - Akses internet yang memadai dan berkecepatan tinggi masih menjadi kendala bagi sejumlah perguruan tinggi swasta (PTS) di Indonesia. Wakil Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI), Paristiyanti Nurwardani, mengungkapkan bahwa kampus-kampus yang tergabung dalam asosiasi ini selama ini kesulitan untuk saling terhubung, termasuk dalam proses pertukaran ilmu pengetahuan.
Keterbatasan Komunikasi Jadi Hambatan
Paristiyanti menyatakan bahwa keterbatasan komunikasi menjadi faktor utama yang menghambat jangkauan APTISI terhadap dosen dan mahasiswa di seluruh Indonesia. "Selama ini kami tidak bisa reach, tidak bisa sampai ke dosen dan mahasiswa di seluruh Indonesia yang anggota APTISI karena keterbatasan komunikasi," ujarnya saat diwawancarai di Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), Jakarta Pusat, pada Selasa (26/5/2026).
Kolaborasi Strategis dengan SURGE
Untuk mengatasi permasalahan tersebut, APTISI kini menjalin kerja sama strategis dengan PT Solusi Sinergi Digital Tbk (SURGE) dalam penyediaan layanan internet. Kolaborasi ini diharapkan dapat memperluas akses dan meningkatkan kualitas konektivitas bagi seluruh anggota APTISI di berbagai daerah.
Manfaat bagi Dunia Pendidikan
Dengan adanya kerja sama ini, dosen dan mahasiswa di PTS diharapkan dapat lebih mudah mengakses sumber belajar digital, mengikuti perkuliahan daring, serta berpartisipasi dalam kegiatan akademik lainnya tanpa terkendala masalah jaringan. Langkah ini juga sejalan dengan upaya pemerintah dalam mendorong transformasi digital di sektor pendidikan tinggi.
Ke depan, APTISI dan SURGE akan terus berupaya memperluas jangkauan layanan agar lebih banyak PTS yang merasakan manfaat dari kolaborasi ini. Dukungan infrastruktur internet yang memadai menjadi kunci untuk menciptakan ekosistem pendidikan yang inklusif dan berkualitas di Indonesia.



