Jakarta - Tiga Sekolah Rakyat berhasil meraih penghargaan pada ajang TOP 100 BUMD, Education, Leader, BPR Excellence Award 2026 yang digelar di Surabaya, Jawa Timur. Ketiga sekolah tersebut adalah Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 49 Sumenep, Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 25 Lamongan, dan Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 29 Pamekasan.
Penghargaan untuk Inovasi dan Prestasi
SRT 49 Sumenep menerima penghargaan 'Excellent Junior High School with Zero Waste Economic System and Food Security of The Year 2026'. Penghargaan ini merupakan bentuk pengakuan atas keberhasilan sekolah dalam menerapkan sistem ekonomi berbasis zero waste serta penguatan ketahanan pangan yang inovatif dan berkelanjutan.
SRMP 29 Pamekasan menerima penghargaan 'The Most Highly Recommended Junior High School With Excellent Literacy Digital Program Of The Year 2026'. Prestasi ini menunjukkan upaya sekolah dalam mengembangkan budaya literasi digital yang unggul, kreatif, dan adaptif terhadap perkembangan teknologi di dunia pendidikan.
SRMA 25 Lamongan menerima penghargaan 'The Most Inspiring School in Studentpreneurship and Sustainable Food Innovation of The Year 2026'. Penghargaan ini menjadi bukti nyata keberhasilan sekolah dalam menumbuhkan jiwa kewirausahaan peserta didik serta menghadirkan inovasi pangan berkelanjutan yang inspiratif.
Apresiasi dan Semangat Inovasi
"Penghargaan ini menjadi penyemangat bagi kami untuk terus berinovasi dan memberikan ruang bagi peserta didik untuk berkembang," kata Kepala SRMA 25 Lamongan Anis Al Aminatuf, dalam keterangan tertulis, Senin (15/6/2026).
TOP 100 BUMD, Education, Leader, BPR Excellence Award 2026 merupakan ajang bergengsi yang memberikan apresiasi kepada figur, lembaga, badan usaha milik daerah (BUMD), institusi pendidikan, perbankan, serta para pemimpin yang dinilai memiliki kontribusi nyata dalam pembangunan dan peningkatan kualitas pelayanan kepada masyarakat.
Program Kewirausahaan di SRMA 25 Lamongan
Lebih lanjut, Anis menjelaskan di SRMA 25 Lamongan, para siswa menumbuhkan jiwa kewirausahaan melalui program Ketahanan Pangan dan Kewirausahaan Sremala (Kepak Sremala) yang diinisiasi oleh sekolah. Pada program ini para siswa diajak memproduksi olahan pangan berbahan dasar tanaman rosela seperti sirup, selai, dan minuman, camilan tradisional Lamongan seperti wingko dan jepit jeber, serta minuman kunyit asam. Selain itu, siswa juga memproduksi batik ciprat.
"Anak-anak tidak hanya belajar teori, tetapi juga terlibat dalam proses menanam, memproduksi, hingga memasarkan produk dengan dampingan dari guru dan tendik. Mereka juga kami ajarkan menghitung HPP dan menentukan harga jual," ungkap Anis.
Semua produk yang dibuat siswa tersebut dipasarkan di Lamongan dan sekitarnya melalui beberapa rekanan, dan saat ini dalam proses pendaftaran sertifikat halal Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan sertifikat Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT).
"Alhamdulillah beberapa repeat order, berdasarkan testimoni pembeli produknya premium namun harga bersahabat. Alhamdulillah untuk batik ciprat juga kami sudah mendapat order 69 lembar, masih dalam proses penyelesaian," ujar Anis. Adapun pemasukan dari hasil penjualan akan digunakan untuk pembelian alat dan bahan, pengembangan produk, serta kebutuhan siswa.
"Ke depan kami ingin memperluas inovasi, meningkatkan kualitas produk, serta memperkuat jejaring pemasaran dan kemitraan, termasuk ketika sertifikat halal dan PIRT sudah berada di tangan, kami akan memasarkan di e-commerce," kata Anis.
Literasi Digital di SRMP 29 Pamekasan
Terpisah, Kepala SRMP 29 Pamekasan Aisyah Minarni Mukti menjelaskan pengembangan budaya literasi digital pada siswa dilakukan melalui inovasi Gerakan Literasi Membaca Menulis (Grasimanis). Program ini mengajak siswa untuk terbiasa membaca, menulis, termasuk membuka bootcamp literasi digital.
"Meskipun sederhana, yang penting anak-anak itu mau baca, dari hasil yang dibaca, silakan dituangkan ditulis, jadi didampingi sama guru-guru Bahasa Indonesia, kemudian juga ada bagian tim pustakawan," kata Aisyah.
Menurut Aisyah, para siswa cukup antusias dalam menulis, terdapat 50 cerita hasil tulisan siswa yang dihimpun ke dalam sebuah buku bertajuk 'Dari Terlantar Menuju Bersinar'. "Ya jadilah 50 cerita ditambah cerita saya, dari cerita itu ada, saya buatkan dalam bentuk digital, pakai flip on book, jadi bisa dinikmati oleh para orang tua, bahkan orang tuanya menangis semua setelah membaca bukunya," jelas Aisyah.
Aisyah menuturkan di samping program literasi digital, siswa juga akan diajak untuk mengembangkan kewirausahaan pangan melalui pembuatan telur asin dari telur ayam kampung.
Prestasi Lain dari Sekolah Rakyat
Sebagai informasi, di samping penghargaan yang diberikan kepada tiga Sekolah Rakyat tersebut, kabar membanggakan lain datang dari SRMA 24 Kediri. Salah satu siswanya yaitu Mohammad Rifai berhasil meraih Medali Emas dalam Lomba Keilmuan Sains.



