Guru Besar UI Kembangkan Beton Ramah Lingkungan dari Limbah Industri
Beton Ramah Lingkungan dari Limbah Industri Dikembangkan UI

Guru Besar UI Kembangkan Beton Ramah Lingkungan dari Limbah Industri

Guru Besar Tetap Bidang Material Konstruksi dan Bangunan Ramah Lingkungan Universitas Indonesia (UI), Sotya Astutiningsih, telah berhasil mengembangkan material beton inovatif yang berasal dari limbah industri. Inovasi ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan perumahan dan infrastruktur yang terus meningkat, sekaligus mendukung kelestarian lingkungan dengan memanfaatkan bahan baku sekunder.

Menurut Sotya, pemanfaatan bahan baku sekunder menjadi kunci penting dalam produksi barang bangunan yang berkelanjutan. Bahan baku sekunder ini mencakup material hasil samping atau limbah yang dapat digunakan kembali dalam proses produksi lain, mengurangi ketergantungan pada sumber daya alam yang terbatas.

Kolaborasi Riset dengan SIG untuk Manfaatkan Abu Terbang

UI berkolaborasi dengan SIG dalam meneliti abu terbang (fly ash) dari berbagai Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di Indonesia. Abu terbang, yang merupakan residu dari pembakaran batubara dan menyumbang hampir 60% sumber energi nasional, dimanfaatkan sebagai bahan baku sekunder. Material ini digunakan baik untuk menggantikan sebagian klinker pada semen Portland (sebagai supplementary cementitious materials) maupun sebagai bahan dasar semen geopolymer.

Sotya menekankan bahwa lonjakan populasi global meningkatkan permintaan akan perumahan dan infrastruktur, yang berpotensi menekan sumber daya alam. Oleh karena itu, diperlukan langkah strategis untuk memenuhi kebutuhan bahan bangunan nasional tanpa mengabaikan aspek lingkungan. Melalui inovasi ini, ia berharap dapat menciptakan pembangunan yang lebih ramah lingkungan di Indonesia.

Beragam Bahan Sekunder untuk Formulasi Beton

Penelitian Sotya menemukan bahwa lebih dari 75% bahan geopolimer berasal dari limbah seperti abu terbang dan terak. Bahan-bahan ini dinilai lebih hemat karena sudah berbentuk serbuk halus dan tidak perlu digiling ulang, cukup dicampurkan ke dalam semen Portland. Selain abu terbang, terak feronikel dari pengolahan bijih nikel lateritik di smelter juga menjadi bahan baku sekunder yang prospektif untuk agregat beton.

Berbagai penelitian di UI menunjukkan bahwa mortar dan beton berbahan terak feronikel sebagai agregat memiliki kuat tekan yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang menggunakan pasir biasa atau pasir kuarsa. Tim peneliti Fakultas Teknik UI telah mengembangkan formulasi semen geopolimer berbasis terak nikel, yang menghasilkan beberapa paten dan diuji coba pada produk beton pracetak bekerja sama dengan PT Jaya Beton Indonesia.

Cangkang Kelapa Sawit untuk Beton Tahan Gempa

Selain itu, palm kernel shell atau cangkang kelapa sawit (CKS) dimanfaatkan sebagai pengganti agregat batu pecah pada beton. Penelitian yang didanai oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) ini menemukan bahwa beton CKS memiliki kekuatan dan pola keruntuhan yang mirip dengan beton biasa, namun lebih ulet sehingga lebih tahan gempa. Dampak lingkungan dari penggunaan CKS bersifat kontekstual, tergantung pada kebutuhan performa mekanis dan aspek geografis.

Pemanfaatan bahan baku sekunder dalam industri konstruksi tidak hanya membuka peluang untuk mengurangi limbah industri dan emisi karbon, tetapi juga memperkuat ketahanan pasokan material nasional. Sotya menjelaskan bahwa penelitian ini merupakan bagian dari peta jalan riset berkelanjutan di bidang rekayasa material konstruksi ramah lingkungan yang telah dikembangkan dalam beberapa tahun terakhir.

Inovasi ini diharapkan dapat menjadi solusi praktis untuk mendukung pembangunan infrastruktur yang berkelanjutan, mengurangi dampak lingkungan, dan memanfaatkan limbah industri secara optimal di Indonesia.