Riset UI Ungkap Mayoritas Siswa SD Jakarta Tak Habiskan Makanan MBG, Picu Potensi Food Waste
Siswa SD Jakarta Tak Habiskan Makanan MBG, Riset UI Ungkap Potensi Food Waste

Riset UI Ungkap Mayoritas Siswa SD Jakarta Tak Habiskan Makanan MBG, Picu Potensi Food Waste

Hasil penelitian Departemen Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI) mengungkapkan fakta mengejutkan: mayoritas siswa sekolah dasar di Jakarta tidak menghabiskan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Temuan ini menimbulkan kekhawatiran serius akan potensi pemborosan makanan atau food waste dalam program pemerintah tersebut.

Metode dan Lokasi Penelitian

Penelitian yang dipimpin oleh Dosen Antropologi FISIP UI Dian Sulistiawati ini dilakukan pada periode Juni hingga September 2025. Studi ini menggunakan metode wawancara dan observasi langsung di lima Sekolah Dasar (SD) yang tersebar di lima wilayah Jakarta, yaitu Timur, Barat, Utara, Selatan, dan Pusat. Partisipan meliputi siswa, guru, pengelola sekolah, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), serta Badan Gizi Nasional (BGN).

Dian menjelaskan, "Penelitian ini bertujuan memberikan gambaran nyata yang rinci dan mendalam tentang pelaksanaan MBG di beberapa sekolah di DKI Jakarta." Dalam setiap kunjungan, tim peneliti menghabiskan satu hari penuh di masing-masing sekolah dan mengamati proses siswa menyantap MBG di dua hingga tiga kelas.

Temuan Mengejutkan di Lapangan

Berdasarkan observasi langsung, dari satu kelas yang berisi 32–34 siswa, hanya sekitar empat hingga lima siswa yang menghabiskan makanan yang disediakan. Dian memaparkan, "Bayangkan, di satu kelas itu hanya 4–5 siswa yang omprengnya benar-benar habis dan makanannya memang dimakan oleh siswa."

Sebagian besar siswa lainnya tidak mengonsumsi makanan secara tuntas, bahkan ada yang hanya memakan dalam jumlah sangat sedikit. Di beberapa sekolah, siswa diperbolehkan membawa pulang sisa makanan karena tidak semua SPPG melarang hal tersebut. Kondisi ini, menurut Dian, perlu menjadi perhatian serius penyelenggara program.

Ironi Program MBG dan Rekomendasi Perbaikan

MBG dirancang untuk memastikan asupan nutrisi anak terpenuhi, namun fakta di lapangan menunjukkan makanan yang disediakan belum sepenuhnya dikonsumsi penerima manfaat. Dian menegaskan, "Sungguh sangat ironis jika program yang bertujuan mengatasi persoalan makanan dan nutrisi, dengan biaya besar, justru berpotensi menyebabkan food waste."

Penelitian ini juga memetakan peluang, kendala, dan strategi pelaksanaan MBG di tingkat sekolah. Studi tersebut memandang MBG bukan sekadar program teknis penyediaan makanan, tetapi sebagai proses pembangunan yang dipengaruhi relasi sosial, infrastruktur, tata kelola, dan partisipasi aktor lokal.

Dalam konteks pelaksanaan, banyak menu yang dianggap asing oleh anak-anak, sehingga menurunkan minat konsumsi dan memicu sisa makanan. Dian menekankan bahwa makanan dan kebiasaan makan merupakan konstruksi budaya. Oleh karena itu, perubahan kebiasaan makan tidak cukup hanya melalui pemberian makanan.

"Diperlukan proses pembelajaran, edukasi rasa, jenis, dan makna makanan, serta pendekatan yang lebih kontekstual dan berkelanjutan," jelasnya. Sebagai rekomendasi, Dian menyarankan agar program MBG disertai proses pembelajaran dan transmisi pengetahuan tentang makanan dan nutrisi oleh para ahli. Selain itu, SPPG dan guru perlu memastikan makanan benar-benar dikonsumsi untuk mencegah terjadinya pemborosan.