Studi Global Ungkap Kembalinya Pandangan Gender Tradisional di Kalangan Generasi Z
Sebuah studi global terbaru yang dirilis menjelang Hari Perempuan Internasional mengungkapkan fenomena menarik: nilai-nilai gender tradisional tampak kembali menguat, terutama di kalangan pria Generasi Z. Penelitian ini dilakukan oleh Ipsos bersama Global Institute for Women's Leadership di King's College London, dengan menganalisis pandangan dari 23.000 responden di 29 negara, termasuk Inggris, Amerika Serikat, Brasil, Australia, dan India.
Temuan Mencolok: Sepertiga Pria Muda Percaya Istri Harus Patuh
Hasil survei menunjukkan bahwa hampir sepertiga atau tepatnya 31% pria dari Generasi Z, yaitu mereka yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012, percaya bahwa seorang istri seharusnya "selalu patuh" kepada suaminya. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan generasi yang lebih tua, di mana hanya 13% pria Baby Boomer (lahir 1946-1964) yang memiliki pandangan serupa.
Perbedaan pandangan ini juga terlihat dalam hal pengambilan keputusan dalam hubungan. Sepertiga pria muda meyakini bahwa laki-laki seharusnya memiliki keputusan akhir, suatu pandangan yang lebih jarang ditemui pada generasi sebelumnya.
Pengaruh Media Sosial dan Konten Ekstrem
Fenomena ini muncul di tengah maraknya konten media sosial yang kembali mempromosikan peran gender tradisional. Robert Grimm, kepala riset politik Ipsos Jerman, menjelaskan bahwa ekosistem digital memperkuat polarisasi karena algoritma media sosial cenderung memberi keuntungan pada pesan-pesan ekstrem.
"Pandangan radikal dari para influencer maskulinitas maupun gerakan tandingan feminis lebih mudah menyebar dan mendapat perhatian di media sosial," ujar Grimm. Ia menambahkan bahwa pria muda sering merasa tidak nyaman jika perempuan sangat mandiri atau memiliki penghasilan lebih tinggi.
Konflik dan Dualitas Pandangan dalam Generasi Z
Survei ini mengungkap adanya perbedaan pandangan yang signifikan antar kelompok usia, tetapi juga di dalam Gen Z sendiri. Sementara 31% pria Gen Z setuju dengan kepatuhan istri, hanya 18% perempuan Gen Z yang memiliki pandangan serupa. Namun, angka ini masih lebih tinggi dibandingkan perempuan Baby Boomer, di mana hanya 6% yang setuju.
Kelly Beaver, CEO Ipsos untuk Inggris dan Irlandia, menyoroti dualitas menarik dalam data: "Mereka adalah kelompok yang paling mungkin setuju bahwa perempuan dengan karier sukses lebih menarik bagi pria. Namun pada saat yang sama, mereka juga paling mungkin setuju bahwa seorang istri harus selalu patuh."
Tekanan Sosial dan Persepsi yang Berbeda
Studi ini juga mengungkap tekanan sosial terkait maskulinitas yang cukup kuat. Tiga dari sepuluh pria muda percaya bahwa seseorang tidak seharusnya mengatakan "I love you" kepada teman, dan 43% berpendapat bahwa laki-laki harus terlihat kuat secara fisik. Bahkan, 21% menganggap pria yang terlibat dalam pengasuhan anak sebagai "kurang maskulin".
Heejung Chung, direktur Global Institute for Women's Leadership, menyatakan kekhawatiran: "Sangat mengkhawatirkan melihat norma gender tradisional masih bertahan. Banyak orang merasa tertekan oleh ekspektasi sosial yang tidak selalu mencerminkan pandangan pribadi."
Survei menunjukkan kesenjangan persepsi, di mana banyak responden menganggap pandangan tradisional dipegang oleh orang lain, meskipun mereka sendiri tidak sepenuhnya setuju. Misalnya, hanya 17% pria percaya perempuan harus bertanggung jawab atas perawatan keluarga, tetapi 35% merasa masyarakat mengharapkan hal itu.
Dampak pada Kesetaraan Gender dan Harapan ke Depan
Julia Gillard, ketua Global Institute for Women's Leadership, menekankan bahwa banyak pria Gen Z tidak hanya menempatkan ekspektasi membatasi pada perempuan, tetapi juga pada diri mereka sendiri dengan standar maskulinitas yang kaku. "Kita perlu menghapus anggapan bahwa kesetaraan gender adalah permainan menang-kalah," katanya.
Studi ini mengindikasikan bahwa Generasi Z sedang dalam proses memikirkan ulang peran gender, dengan tarik-menarik antara keinginan akan kebebasan dan pandangan tradisional. Gillard menegaskan pentingnya riset berbasis data untuk mempercepat perubahan dan menolak tekanan untuk kembali ke nilai-nilai lama.
