Penulisan Halalbihalal yang Benar Menurut KBBI: Disambung atau Dipisah?
Setiap memasuki momen Idulfitri, pertanyaan mengenai penulisan istilah halal bihalal atau halalbihalal kerap muncul di kalangan masyarakat. Banyak orang masih menuliskannya dalam bentuk terpisah, padahal Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) telah menetapkan aturan baku yang jelas. Memahami penulisan yang benar ini menjadi penting, terutama untuk kebutuhan formal seperti undangan, surat resmi, atau publikasi lembaga.
Penulisan yang Benar: Halalbihalal
Merujuk pada KBBI, penulisan yang tepat adalah halalbihalal sebagai satu kata yang disambung, bukan dipisah menjadi halal bihalal. Dalam KBBI, kata ini ditulis dengan pemenggalan suku kata ha.lal.bi.ha.lal dan memiliki bentuk tidak baku bihalal. Istilah halalbihalal diartikan sebagai kegiatan maaf-memaafkan setelah menunaikan ibadah puasa Ramadan, yang biasanya diselenggarakan oleh sekelompok orang di suatu tempat seperti aula atau auditorium.
Menurut KBBI, halalbihalal juga dimaknai sebagai kegiatan silaturahmi yang menjadi kebiasaan khas Indonesia setelah Idulfitri. Tradisi ini identik dengan pertemuan keluarga, masyarakat, hingga instansi untuk saling memaafkan dan mempererat hubungan sosial setelah Ramadan. Dalam praktik sehari-hari, penulisan halal bihalal yang dipisah masih sering digunakan, terutama dalam konteks nonformal seperti percakapan atau undangan santai. Namun, untuk penulisan resmi dan mengikuti kaidah bahasa Indonesia yang baku, bentuk halalbihalal yang disambung lebih tepat digunakan sesuai ketentuan KBBI.
Asal-usul Tradisi Halalbihalal Idulfitri
Tradisi halalbihalal memiliki sejarah panjang di Indonesia dan dikenal sebagai budaya yang khas. Menurut catatan sejarah, istilah ini mulai populer pada masa awal kemerdekaan sebagai upaya mempererat persatuan bangsa setelah terjadi konflik politik di berbagai daerah. Mengutip dari sumber yang terpercaya, tradisi ini dikaitkan dengan gagasan KH Wahab Hasbullah pada tahun 1948.
Saat itu, Presiden Soekarno meminta saran untuk meredakan ketegangan politik, lalu KH Wahab Hasbullah mengusulkan kegiatan silaturahmi yang disebut halalbihalal agar para tokoh bangsa dapat saling memaafkan dan memperbaiki hubungan. Sejak saat itu, halalbihalal menjadi tradisi tahunan setiap Idulfitri dan berkembang luas di masyarakat. Kegiatan ini kemudian diadopsi oleh instansi pemerintah, sekolah, organisasi, hingga keluarga besar sebagai sarana mempererat silaturahmi setelah Ramadan, sehingga dikenal sebagai tradisi yang hanya ada di Indonesia.
Dengan memahami penulisan yang benar dan asal-usulnya, kita dapat lebih menghargai tradisi halalbihalal sebagai bagian dari kekayaan budaya dan bahasa Indonesia. Pastikan untuk menggunakan bentuk halalbihalal yang disambung dalam konteks formal untuk menjaga kesesuaian dengan kaidah KBBI.



