Spanyol Juara Piala Dunia 2026: Analisis Final vs Argentina
Spanyol Juara Piala Dunia 2026: Analisis Final vs Argentina

Spanyol Kalahkan Argentina 1-0 di Final Piala Dunia 2026

Spanyol berhasil merebut gelar juara Piala Dunia untuk kedua kalinya setelah mengalahkan juara bertahan Argentina dengan skor 1-0 melalui babak perpanjangan waktu di final Piala Dunia 2026. Gol semata wayang dicetak oleh pemain pengganti, Ferran Torres, pada menit ke-105.

Gol tersebut berawal dari umpan silang Pedro Porro yang disundul oleh Nico Williams ke arah Torres, yang kemudian melepaskan tendangan keras yang tak mampu dihalau kiper Argentina, Emiliano Martinez.

Kemenangan ini menjadi pencapaian istimewa bagi Spanyol di bawah asuhan Luis de la Fuente. Setelah menjuarai Euro 2024, tim berjuluk La Roja itu kini melengkapinya dengan gelar juara dunia, mengingatkan pada era keemasan timnas Spanyol periode 2008-2010.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Argentina Gagal Pertahankan Gelar

Upaya Argentina untuk menjadi negara pertama sejak Brasil pada 1962 yang mampu mempertahankan gelar Piala Dunia harus berakhir gagal. Lionel Messi juga harus mengubur harapannya untuk meraih gelar Piala Dunia kedua. Dalam laga final, Messi hanya mampu melepaskan satu tembakan yang tidak mengarah ke gawang, dan dijauhkan dari area berbahaya oleh pertahanan Spanyol.

Argentina harus bermain dengan 10 orang setelah Enzo Fernandez diganjar kartu kuning kedua dan diusir keluar lapangan pada menit ke-93. Sepanjang pertandingan, Argentina tampil tumpul di lini depan dan tidak mampu melepaskan satu pun tembakan hingga menit ke-115.

Dominasi Spanyol dan Penyelamatan Gemilang Kiper

Kedua tim sama-sama menciptakan peluang, tetapi penampilan gemilang dua penjaga gawang, Emiliano Martinez dan Unai Simon, membuat skor tetap imbang sepanjang waktu normal. Martinez, khususnya, melakukan serangkaian penyelamatan krusial yang menjaga harapan Argentina tetap hidup. Namun, setelah gol Torres, Argentina berupaya menyerang pada menit-menit akhir, tetapi upaya itu datang terlambat.

Lamine Yamal, yang oleh banyak pihak dianggap sebagai pemain berpotensi menyamai pencapaian Lionel Messi, nyaris mencetak gol di penghujung waktu normal melalui tendangan bebas melengkung yang ditepis Martinez. Kiper Argentina ini bahkan mencatat penyelamatan lebih impresif pada awal babak pertama perpanjangan waktu saat menggagalkan sundulan Nico Williams dari jarak dekat.

Tiga menit kemudian, Martinez akhirnya tak mampu menghentikan Williams yang menjebol gawang Argentina, namun wasit menganulir gol tersebut karena pelanggaran dalam proses terciptanya peluang.

Analisis: Perjalanan Spanyol Menuju Juara

Perjalanan Spanyol di Piala Dunia diawali dengan hasil imbang tanpa gol melawan Tanjung Verde. Namun, perjalanan mereka berakhir dengan status juara setelah merebut trofi paling bergengsi dalam sepak bola dunia untuk kedua kalinya. Kesuksesan tersebut sepenuhnya layak diraih oleh tim Spanyol yang terus berkembang sepanjang turnamen.

Mereka tampil impresif dengan menyingkirkan favorit kuat Prancis di babak semifinal, lalu berupaya memenangkan final yang minim kualitas hiburan ini melalui pendekatan sepak bola yang mengandalkan permainan terbuka dan penguasaan bola. Pelatih Luis de la Fuente, yang dikenal tenang dan tidak banyak mencari sorotan, memimpin timnya dengan ketenangan yang patut diapresiasi.

Dia sebelumnya mengantar Spanyol menjuarai Euro 2024 di Berlin, dan karakter yang sama kembali ditunjukkan timnya ketika menghadapi berbagai provokasi dari para pemain Argentina di final. Spanyol memperoleh keuntungan jumlah pemain setelah Enzo Fernandez diusir keluar lapangan, dan jarang mendapat ancaman berarti di lini pertahanan, sementara masuknya Nico Williams sebagai pemain pengganti memberikan daya dobrak yang sebelumnya kurang terlihat.

Analisis: Kekalahan Argentina, Perpisahan Pahit bagi Messi?

Apabila ini benar-benar menjadi pertandingan Piala Dunia terakhir Lionel Messi, maka kisah tersebut berakhir dengan kekecewaan mendalam. Argentina gagal mempertahankan gelar yang mereka raih sebelumnya, sementara sang kapten tidak mampu memberikan pengaruh besar terhadap jalannya laga.

Pada usia 39 tahun, Messi kini memainkan sebagian besar laga dengan ritme yang lebih tenang dibanding masa jayanya. Meski demikian, dia tetap mencetak delapan gol sepanjang turnamen dan kembali menjadi sosok pemimpin sekaligus inspirasi utama Argentina. Perannya sangat menonjol saat semifinal melawan Inggris, ketika dia menciptakan dua gol dalam kemenangan 2-1.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga

Namun di final, Messi berhasil diredam oleh pertahanan Spanyol. Dia hanya mampu melepaskan satu tembakan, yang bahkan tidak mengarah ke gawang, serta dijauhkan dari area-area berbahaya yang biasanya menjadi wilayah operasinya. Messi juga tidak banyak terbantu oleh pendekatan permainan Argentina. Tim asuhan Lionel Scaloni tampak lebih fokus mengganggu ritme dan membuat Spanyol frustrasi, ketimbang mengandalkan kualitas permainan menyerang yang sebenarnya mereka miliki.