Serangan Israel di Lebanon Selatan Tewaskan 12 Orang, Termasuk 3 Jurnalis
Israel Serang Lebanon Selatan, 12 Tewas Termasuk Jurnalis

Serangan Israel di Lebanon Selatan Tewaskan 12 Orang, Termasuk 3 Jurnalis

Sebuah serangan militer Israel di Lebanon selatan pada hari Sabtu, 28 Maret 2026, telah menewaskan dua belas orang, termasuk tiga jurnalis dan sembilan paramedis. Insiden ini terjadi di kawasan Jezzine, Lebanon selatan, dan telah memicu gelombang kecaman luas dari berbagai pihak internasional.

Korban Jiwa dalam Serangan yang Menyasar Warga Sipil

Menurut laporan yang beredar, serangan tersebut secara langsung menyasar sebuah kendaraan yang jelas-jelas bertanda "pers", yang sedang menjalankan tugas jurnalistik. Tiga jurnalis yang menjadi korban dalam insiden ini adalah Fatima Ftouni, Mohammed, dan Ali Shuaib. Fatima dan Mohammed diketahui bekerja untuk media Al Mayadeen, yang kemudian mengonfirmasi bahwa kendaraan mereka dihantam oleh empat rudal presisi tepat sebelum tengah hari waktu setempat.

Selain ketiga jurnalis tersebut, sembilan paramedis juga dilaporkan tewas dalam serangan yang sama. Mereka adalah tenaga medis yang sedang bertugas memberikan bantuan kemanusiaan di wilayah konflik. Kombinasi korban dari kalangan jurnalis dan paramedis ini semakin memperkuat tuduhan bahwa serangan Israel kali ini menyasar warga sipil yang tengah menjalankan tugas kemanusiaan dan jurnalistik.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Kecaman Luas Terhadap Serangan yang Dinilai Tidak Manusiawi

Serangan ini telah memicu kecaman yang sangat luas dari berbagai organisasi hak asasi manusia, asosiasi jurnalis, dan pemerintah negara-negara lain. Banyak pihak menilai serangan tersebut sebagai pelanggaran berat terhadap hukum humaniter internasional, karena jelas-jelas menargetkan individu yang tidak terlibat dalam pertempuran.

"Ini adalah serangan yang tidak dapat dibenarkan dan sangat tidak manusiawi," ujar seorang juru bicara dari organisasi pemantau konflik. "Menyerang jurnalis dan paramedis yang sedang menjalankan tugas mereka adalah tindakan yang melanggar prinsip-prinsip dasar perlindungan warga sipil dalam situasi konflik."

Beberapa poin penting yang menjadi sorotan dalam kecaman tersebut antara lain:

  • Penggunaan rudal presisi yang menunjukkan kesengajaan dalam menargetkan kendaraan tertentu.
  • Lokasi serangan di Jezzine, yang merupakan area dengan aktivitas sipil yang signifikan.
  • Identitas korban yang berasal dari profesi yang dilindungi secara internasional, yaitu jurnalis dan tenaga medis.

Dampak dan Implikasi Serangan Terhadap Situasi di Lebanon

Serangan ini tidak hanya menimbulkan korban jiwa, tetapi juga berpotensi memperburuk ketegangan yang sudah ada di wilayah Lebanon selatan. Keamanan para jurnalis dan pekerja kemanusiaan di daerah konflik kini menjadi pertanyaan besar, mengingat insiden ini menunjukkan bahwa mereka tidak lagi merasa aman meskipun dengan tanda pengenal yang jelas.

Pemerintah Lebanon telah menyatakan akan mengajukan protes resmi kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) terkait serangan ini. Sementara itu, komunitas internasional mendesak agar dilakukan investigasi independen untuk mengungkap fakta sebenarnya di balik insiden memilukan tersebut.

Dengan bertambahnya korban sipil dalam konflik yang berkepanjangan, harapan untuk perdamaian di wilayah tersebut semakin terkikis. Serangan terhadap jurnalis dan paramedis ini menjadi pengingat betapa rapuhnya kehidupan warga sipil di tengah gejolak politik dan militer yang terus berlanjut.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga