Ikatan Bak Keluarga: Zura dan Uripah, Kisah Pengasuhan di Banjarnegara
Suatu siang di Dusun Prapas, Desa Gumiwang, Purwanegara, Banjarnegara, Jawa Tengah, Zura (5) berlari kencang menuju Uripah (58) yang sedang duduk di kursi depan televisi. Gadis kecil itu ingin menunjukkan bunga kecil berwarna merah muda yang baru saja mekar dan dipetik dari halaman rumah tetangganya.
Meski tidak memiliki ikatan saudara kandung, Zura tanpa sungkan meminta Uripah untuk memegang dan mencoba mencium bunga di tangannya. Hubungan keduanya memang sudah sangat lekat dan penuh kehangatan.
Pengasuhan Sejak Dini
Ikatan erat antara Zura dan Uripah terjalin sejak Zura masih kecil. Saat kedua orang tua Zura bekerja, gadis cilik itu diasuh oleh Uripah. Pola pengasuhan ini telah berlangsung cukup lama dan membentuk hubungan yang sangat khusus antara keduanya.
Uripah menjadi figur pengasuh yang sangat berarti dalam kehidupan Zura. Hampir setiap hari, Zura dijaga oleh Uripah, dan mereka sangat jarang terpisah. Bahkan, jika tidak berada di rumahnya sendiri, Zura bisa menghabiskan waktu seharian di rumah Uripah.
Rekor Pemisahan yang Langka
Hubungan keduanya begitu kuat sehingga pemisahan menjadi hal yang sangat jarang terjadi. Durasi terlama mereka tidak bertemu hanya sekitar empat pekan, dan itu baru terjadi pada Agustus 2025 lalu. Ini menunjukkan betapa eratnya ikatan yang telah mereka bangun selama ini.
Kedekatan ini tidak hanya sekadar hubungan pengasuhan biasa, tetapi telah berkembang menjadi ikatan emosional yang mendalam. Zura merasa nyaman dan aman bersama Uripah, sementara Uripah memberikan perhatian dan kasih sayang layaknya keluarga sendiri.
Kisah Zura dan Uripah ini menggambarkan bagaimana hubungan sosial yang kuat dapat terbentuk di masyarakat pedesaan, di mana pola pengasuhan bersama masih menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Mereka adalah contoh nyata bahwa keluarga tidak selalu harus diikat oleh hubungan darah.



