DWP Kemensos Gaungkan Anti Bullying di Sekolah, 180 Siswa Antusias Ikut Sosialisasi
DWP Kemensos Gaungkan Anti Bullying di Sekolah, 180 Siswa Antusias

Angka kekerasan terhadap anak di Indonesia terus menunjukkan peningkatan yang mengkhawatirkan. Perundungan atau bullying menjadi salah satu bentuk kekerasan yang paling sering terjadi di lingkungan sekolah. Data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak mencatat bahwa sejak tahun 2021 hingga 2025, tren kasus kekerasan terhadap anak terus meningkat. Bahkan pada awal tahun 2025 saja, sudah tercatat sebanyak 4.664 kasus. Di balik angka-angka tersebut, banyak anak yang mengalami luka fisik maupun batin di tempat yang seharusnya menjadi ruang paling aman bagi mereka, yaitu sekolah.

DWP Kemensos Menggelar Sosialisasi Anti Bullying

Berangkat dari kondisi yang memprihatinkan itu, Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kementerian Sosial RI mengadakan kegiatan bertajuk 'Sosialisasi Anti Bullying Remaja Berkarakter dan Berempati' di SRMA 13 Bekasi. Kegiatan ini merupakan upaya nyata untuk menumbuhkan kesadaran dan kepedulian di kalangan pelajar. Acara dibuka dengan penampilan tari kreasi tradisional oleh siswi SRMA 13 Bekasi yang berhasil menghadirkan suasana hangat dan penuh semangat. Kegiatan juga dimeriahkan dengan penampilan siswa melalui pidato dalam bahasa Inggris, Arab, dan Jepang. Sebanyak 180 siswa mengikuti sosialisasi tersebut dengan penuh antusiasme.

Pesan dari Wakil Ketua II DWP Kemensos

Wakil Ketua II DWP Kemensos RI, Evi Agus Zainal, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan respons atas kondisi yang tidak bisa diabaikan. "Kegiatan ini dilakukan sebagai respons atas maraknya kejadian bullying di kalangan generasi sekolah saat ini. Kita ingin anak-anak tidak hanya memahami bahayanya, tetapi juga berani menghentikannya," ujar Evi dalam keterangan tertulis pada Senin (11/5/2026).

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Penasihat DWP Kemensos Dorong Siswa Jadi Pelopor Perubahan

Sementara itu, Penasihat DWP Kemensos RI, Fatma Saifullah Yusuf, memberikan pesan inspiratif kepada para siswa agar menjadi pelopor perubahan di lingkungan sekolah. "Kami percaya bahwa murid SRMA 13 Bekasi adalah anak-anak yang baik. Dengan bimbingan kepala sekolah dan para guru, kita harus mampu menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan saling mengasihi," ujar Fatma. Ia juga menekankan bahwa pencegahan bullying harus dimulai dari diri sendiri. "Mulai dari hal sederhana seperti menghargai perbedaan, saling menghormati, dan berani berkata 'tidak' pada perundungan. Jangan hanya menjadi penonton, tetapi beranilah membela yang lemah dan mendukung korban," tegasnya.

Kepala Sekolah SRMA 13 Bekasi Dukung Lingkungan Positif

Kepala Sekolah SRMA 13 Bekasi, Lastri Fajarwati, menyebut bahwa pihak sekolah terus berupaya menciptakan lingkungan belajar yang positif. "Di sini ada 14 ekstrakurikuler untuk memenuhi kebutuhan aktivitas anak-anak, agar mereka bisa berkembang dan terarah dalam kegiatan yang positif," jelasnya. Dengan adanya berbagai kegiatan ekstrakurikuler, diharapkan siswa dapat menyalurkan energi dan bakat mereka ke hal-hal yang bermanfaat.

Deklarasi Anti Perundungan dan Penandatanganan Komitmen

Dalam kegiatan tersebut, para siswa membacakan Deklarasi Anti Perundungan yang berisi komitmen bersama, mulai dari menolak bullying hingga menyebarkan pesan positif di lingkungan sekolah. Setelah pembacaan, deklarasi kemudian ditandatangani oleh Fatma Saifullah Yusuf bersama jajaran DWP Kemensos, Direktur Anak, Kepala Sentra Terpadu, dan perwakilan sekolah. Penandatanganan ini menjadi simbol komitmen untuk menciptakan sekolah yang bebas dari perundungan.

Sesi Sosialisasi Interaktif dengan Role Play

Kegiatan juga diisi dengan sesi sosialisasi interaktif yang dipandu oleh Ginanjar Maulana, yang akrab disapa Kang Gin, seorang trainer dan motivator. Ia mengajak siswa untuk terlibat dalam role play terkait situasi perundungan yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Melalui metode ini, siswa diajak untuk memahami posisi korban, pelaku, maupun saksi, sehingga dapat menumbuhkan empati dan kesadaran emosional. Salah satu siswi SRMA 13 Bekasi, Alma, mengaku mendapatkan pengalaman yang berkesan. "Dengan adanya sosialisasi ini ditambah pakai praktek jadi paham gimana enggak enaknya ngebully, tapi juga bisa dihentikan sama lingkungan. Ini jadi pengingat buat kita supaya enggak melakukan hal itu juga," ungkapnya.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga

Penyaluran Bantuan ATENSI

Selain edukasi, kegiatan ini juga diisi dengan penyaluran bantuan Asistensi Rehabilitasi Sosial (ATENSI). Sebanyak lima penerima manfaat menerima bantuan kursi roda, yaitu Eko Yulianto (28) dari Bekasi, Fao (48) dari Bandung, Wilson (33) dari Bekasi, Chelsea (9) dari Ternate yang mengalami jantung bocor, serta Rosada, seorang lansia. Bantuan ini diharapkan dapat meringankan beban para penerima manfaat dan meningkatkan kualitas hidup mereka.