AKP Wasito Bina Panti Asuhan Al Dzikro di Bantul, Bantu Puluhan Anak Yatim
AKP Wasito Bina Panti Asuhan Al Dzikro di Bantul

AKP Wasito Bina Panti Asuhan Al Dzikro di Bantul, Bantu Puluhan Anak Yatim

AKP Wasito, seorang Kanit Regident Satlantas Polresta Sleman, telah membina dan mengembangkan Panti Asuhan Al Dzikro di Kelurahan Wukirsari, Imogiri, Bantul, D.I Yogyakarta. Tujuannya adalah agar anak-anak yatim di sana mendapatkan pendidikan dan kehidupan yang layak. Dedikasinya ini membuatnya diusulkan sebagai kandidat Hoegeng Awards 2026.

Dukungan dari Masyarakat dan Pengembangan Panti

Lurah Wukirsari, Susilo Hapsoro, memuji AKP Wasito sebagai sosok yang berjiwa sosial tinggi dan aktif di masyarakat. "Beliau itu punya jiwa sosial yang tinggi dan di masyarakat juga bagus, beliau tokoh masyarakat di wilayah," kata Susilo. Panti Asuhan Al Dzikro, yang kini dipimpin Wasito sebagai Ketua Yayasan, semakin berkembang dan bahkan meraih penghargaan juara 3 dari Dinas Sosial Kabupaten Bantul.

Panti ini menampung 60 santri dari berbagai daerah, termasuk luar Bantul. Anak-anak disekolahkan secara gratis oleh yayasan, dari tingkat SD hingga SMA, dengan prioritas masuk ke MTs 3 Bantul melalui MoU. Selain itu, panti ini juga mengadakan kegiatan rutin seperti pengajian untuk ibu-ibu dan semaan Al-Qur'an, yang memberikan dampak positif bagi masyarakat setempat.

Program Kemandirian dan Ekonomi Produktif

AKP Wasito mengajarkan kemandirian kepada anak-anak melalui budidaya ternak sapi, kambing, dan kolam lele. "Ada pengembangan usaha. Di panti itu selain menampung juga memberikan edukasi seandainya besok sudah keluar panti, sudah dewasa, itu punya keahlian terutama perikanan, dan juga peternakan," ujar Susilo. Keuntungan dari ternak digunakan untuk biaya operasional panti dan dibagikan ke masyarakat, terutama saat kurban.

Warga setempat juga dilibatkan dalam program ternak dengan sistem bagi hasil. Kolam lele di panti ini mendapat bantuan dari Yayasan Kemala Bhayangkara, dengan sekali panen menghasilkan untung Rp 1,5-2 juta per 2,5 bulan. Ini menjadi usaha ekonomi produktif yang mendukung keberlanjutan panti.

Awal Mula dan Sumber Pendanaan

Panti Asuhan Al Dzikro berawal dari langgar kecil pada 1993, tempat Wasito dan anak-anak yatim mengaji. Setelah gempa Yogyakarta 2006, panti dibangun kembali dengan bantuan donatur dan gotong royong warga. Bangunan berdiri di lahan wakaf dan kini memiliki 11 pengurus sukarela.

Biaya operasional panti mencapai Rp 20-30 juta per bulan, yang berasal dari donatur dan kontribusi pribadi AKP Wasito. Pembukuan dilakukan dengan tertib, sehingga panti meraih peringkat 3 terbaik dalam pengelolaan dari Dinas Sosial Bantul. Setiap anak juga memiliki tabungan dari donatur, yang dapat digunakan setelah lulus SMA untuk kuliah atau bekerja.

Motivasi dan Dampak Sosial

AKP Wasito termotivasi untuk mendirikan panti karena pengalaman hidupnya yang susah sebagai anak yatim. "Dulu itu makan saja susah, untuk anak seusia kami apalagi anak-anak yang nggak punya orang tuanya, pasti lebih susah dan lebih terlantar," katanya. Dengan menggandeng warga, dia berharap anak-anak yatim tidak mengalami kesulitan serupa.

Panti Asuhan Al Dzikro tidak hanya memberikan tempat tinggal, tetapi juga pendidikan agama, keterampilan, dan dukungan finansial. Upaya AKP Wasito ini menunjukkan komitmennya dalam mengabdi melalui panti asuhan, menjadikannya teladan di masyarakat Bantul dan kandidat Hoegeng Awards 2026.