Suasana di depan Rumah Tahanan (Rutan) Kelas I Sialang Bungkuk, Pekanbaru, berubah menjadi sangat emosional pada Rabu (11/3/2026) pagi. Isak tangis pecah dari sejumlah ibu-iba yang berkumpul, menyambut kedatangan mobil tahanan yang membawa Gubernur Riau nonaktif, Abdul Wahid. Kedatangan ini bertujuan untuk pemindahan tempat penahanan, guna mempermudah proses persidangan di Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri Pekanbaru.
Prosedur Hukum Disambut Dukungan Moral yang Mengharukan
Meski merupakan langkah hukum formal, pemindahan ini disambut dengan aksi dukungan moral yang penuh haru dari para simpatisan. Kerumunan warga, terutama ibu-iba, menunjukkan solidaritas tinggi terhadap mantan pemimpin daerah mereka.
Pendukung: Kami Hanya Ingin Mendengar Beliau Bicara
Di antara kerumunan, tampak Vivi dan Ida, dua dari banyak ibu-iba yang telah menunggu sejak pagi buta. Mereka mengungkapkan kekecewaan mendalam karena ketatnya pengawalan petugas menghalangi interaksi langsung dengan Abdul Wahid. "Kami hanya ingin mendengar beliau bicara," ujar salah satu pendukung dengan suara terisak.
Kehadiran mereka mencerminkan dukungan yang tak surut meski dalam situasi sulit. Proses hukum yang berjalan tampaknya tidak mengurangi rasa hormat dan harapan yang mereka sematkan pada sang gubernur nonaktif.
Insiden ini menyoroti dinamika sosial-politik di Riau, di mana figur publik seperti Abdul Wahid masih memiliki pengaruh kuat di hati masyarakat. Pemindahan tahanan, yang seharusnya bersifat rutin, justru menjadi momen penuh emosi yang mengundang perhatian luas.
