Muse Model Menangis Usai Diperiksa Polisi karena Sebar Hoax Begal
Muse Model Menangis Usai Diperiksa Sebar Hoax Begal

Jakarta - Seorang muse model berinisial AJDV alias AWS menangis tersedu-sedu setelah menjalani pemeriksaan di Polda Metro Jaya pada Kamis (21/5/2026). Pemeriksaan dilakukan terkait kasus penyebaran kabar bohong yang menyebut dirinya menjadi korban begal di Kebon Jeruk, Jakarta Barat.

Dikutip dari berbagai sumber, Jumat (22/5/2026), awalnya beredar kabar di media sosial bahwa AJDV menjadi korban begal di kawasan Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Polisi kemudian melakukan pengecekan ke lokasi dan rumah sakit untuk memastikan kebenaran informasi tersebut.

Pengecekan Polisi ke TKP dan Rumah Sakit

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto menyatakan bahwa pihak kepolisian telah turun ke tempat kejadian perkara (TKP) untuk melakukan pengecekan. "Terkait informasi yang beredar mengenai dugaan pembegalan terhadap seorang model di kawasan Kebon Jeruk, jajaran Polsek Kebon Jeruk dan Satreskrim Polres Metro Jakarta Barat telah melakukan pengecekan awal lokasi yang diduga tempat kejadian perkara dan mendatangi Rumah Sakit Sumber Waras untuk memastikan kebenarannya," jelas Budi Hermanto dalam keterangannya, Senin (18/5).

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Polisi juga mendatangi rumah sakit tersebut untuk mengecek korban. Namun, dari hasil pengecekan di rumah sakit, tidak ditemukan nama pasien yang dimaksud. "Dari hasil pengecekan sementara, tidak ditemukan data pasien atas nama yang disebutkan dalam unggahan tersebut dalam kurun waktu satu bulan terakhir," imbuhnya.

Bukan Korban Begal

Polisi kemudian melakukan serangkaian penyelidikan mengenai kabar tersebut. Ternyata, model tersebut bukan merupakan korban begal. "Kami jelaskan dari Direktorat PPA dan PPO bersama Satres PPA PPO Jakarta Barat dan Polsek Kebun Jeruk, didampingi oleh UPT P3A dan Psikologi, termasuk Dokkes Polda Metro Jaya itu melakukan proaktif mendatangi saudari AWS dan sudah melakukan interogasi," kata Budi Hermanto, Rabu (20/5). "Kami tegaskan bahwa yang bersangkutan bukanlah menjadi korban begal ataupun tindakan kriminal lainnya," tambah dia.

Motif Iseng dan Ingin Glorifikasi Viral Begal

Polisi mengungkap motif AJDV menyebarkan hoax. Berdasarkan pengakuan AJDV, ia menyebarkan hoax karena iseng. "Apa motifnya? Yang pertama karena iseng, yang kedua ingin mengglorifikasikan bahwa beberapa kejadian viral tentang begal. Hal ini sudah didatangi tadi siang dan sudah dilakukan pendalaman. Jadi kita putuskan bahwa yang bersangkutan bukan merupakan korban dari suatu peristiwa pidana," kata Budi Hermanto, dikutip Kamis (21/5).

Lebih lanjut, Budi Hermanto mengajak masyarakat untuk bijaksana dalam bermedia sosial. Budi mengimbau warga tidak menyampaikan berita-berita yang menyesatkan sehingga menimbulkan kegaduhan. "Polda Metro Jaya sudah hadir untuk melakukan pendampingan psikologis kepada yang bersangkutan dan kami putuskan, simpulkan dari hasil pendalaman bahwa yang bersangkutan bukan merupakan korban dari suatu peristiwa pidana," sebutnya.

Muse Model Menangis Usai Pemeriksaan

Polisi telah memeriksa AJDV di Polda Metro Jaya. Seusai pemeriksaan, AJDV tampak menangis tersedu-sedu. "Iya (Diperiksa) di Siber dalam rangka meminta penjelasan yang bersangkutan," ujar Budi Hermanto saat dihubungi wartawan, Kamis (21/5).

Pemeriksaan dilakukan sejak siang hari. Pantauan di lokasi, AJDV baru keluar dari ruang pemeriksaan sekitar pukul 20.26 WIB. Terlihat AJDV mengenakan jaket berwarna biru, wajahnya tertutup masker, dan kepalanya ditutupi hoodie. Saat keluar, ia didampingi seorang wanita dan dua petugas kepolisian. AJDV hanya menangis saat ditanyai wartawan dan tidak menjawab pertanyaan. Tak lama kemudian, ia langsung pergi meninggalkan lokasi.

Luka di Kepala Ternyata Bisul

Polisi memintai keterangan AJDV terkait postingannya itu, termasuk foto luka di kepala yang ternyata adalah bisul. "Ini sudah didalami, termasuk sudah dilakukan visum et repertum terhadap luka. Kami ulangi kembali, luka tersebut adalah bisul yang meletus. Jadi bukan karena bacokan pelaku begal," kata Budi Hermanto dalam jumpa pers di Mapolda Metro Jaya, Jumat (22/5).

Budi menjelaskan, kasus itu awalnya ramai dari unggahan di media sosial soal dugaan pembegalan. Kemudian Direktorat PPA-PPO, Subdit PPA-PPO Jakarta Barat, Polsek Kebon Jeruk, Dokkes Polda Metro Jaya turun tangan menemui AJDV. "Nah, pada saat kemarin dilakukan undangan klarifikasi dari Direktorat Siber Polda Metro Jaya untuk mendalami apa motif dari yang bersangkutan," jelasnya.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga

Polisi kemudian menyebut ada kemungkinan upaya membangun opini lewat narasi korban kriminal. Dan kini diketahui bahwa hal itu adalah bohong.