Dua pekan berlalu sejak penemuan mayat Sekretaris Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (PRKP) Pemerintah Kabupaten Bangkalan berinisial RYS (51) di dalam mobil dinas di area parkir Terminal 1 Bandara Internasional Juanda, polisi masih belum menangkap terduga pelaku. Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Jawa Timur (Jatim) bersama Polresta Sidoarjo terus memburu pria berinisial E yang diduga menjadi orang terakhir bersama korban sebelum ditemukan tewas.
Pengejaran Terduga Pelaku yang Lincah
Polisi mengakui proses pengejaran berjalan tidak mudah karena terduga pelaku terus berpindah-pindah lokasi. Kasubdit III Jatanras Ditreskrimum Polda Jatim, AKBP Arbaridi Jumhur, mengatakan bahwa pelaku sangat lincah sehingga pihaknya harus melacaknya melalui teman dan kerabat.
"Masih kita sisir terus, masih kita datangi terus teman, keluarga, mohon waktu. Memang agak lincah dikit untuk pelaku," kata Jumhur, Rabu (8/7).
Jumhur menambahkan, pengejaran menjadi lebih rumit karena E diduga tidak menetap di satu wilayah. Polisi menemukan indikasi pelaku berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain sehingga area pencarian diperluas.
"Banyak titik. Karena dia berpindah-pindah, tidak menetap di satu tempat. Kita memang perlu waktu. Tentu kita koordinasi dengan teman dan keluarga," ujarnya.
Temuan Forensik yang Menguatkan Dugaan Pembunuhan
Korban RYS ditemukan tak bernyawa secara misterius di dalam mobil dinas di area parkir Terminal 1 Bandara Internasional Juanda pada Rabu (24/6). Dugaan pembunuhan menguat setelah tim forensik Rumah Sakit Bhayangkara Pusdik Sabhara Porong menemukan sejumlah indikasi kekerasan pada tubuh korban. Pemeriksaan luar menunjukkan adanya luka robek pada cuping telinga kiri akibat benturan benda tumpul.
Selain itu, dokter forensik juga menemukan pelebaran pembuluh darah pada kelopak mata dan kebiruan pada bibir yang lazim dijumpai pada korban meninggal akibat mati lemas atau asfiksia. Pemeriksaan organ dalam memperlihatkan perubahan warna pada lidah, epiglotis, saluran napas bagian atas, hingga dinding lambung.
Keluarga Korban Sebut Pelaku Berpindah-pindah
Kuasa hukum keluarga korban, Risang Bima Wijaya, mengatakan pihaknya sudah mengantongi nama terduga pelaku yang disebutnya dengan inisial E. Hal itu diketahui melalui unggahan media sosial terakhir korban dan terduga pelaku. Sosok E diyakini sebagai pria misterius yang terakhir kali bersama korban, sebagaimana terekam dalam kamera CCTV di area Bandara Internasional Juanda Surabaya.
Keduanya diketahui bepergian bersama ke daerah Malang dan Batu beberapa hari sebelum mayat RYS ditemukan dalam keadaan kaku di dalam mobil dinasnya. Risang mengungkapkan, jejak keberadaan terduga pelaku sempat terlacak di wilayah Jawa Tengah, meski hingga kini yang bersangkutan diduga terus berpindah-pindah lokasi dan tidak menetap di alamat resminya di kawasan Malang.
"Iya, sempat terlacak di wilayah Jawa Tengah. Tapi ini berpindah-pindah. Pelaku ini kan alamatnya kan tidak ada itu di alamat rumahnya. Namanya Erlan," ungkapnya.
Profil Terduga Pelaku dan Dugaan Motif
Dari hasil penelusuran pihaknya, Risang menyebutkan sejumlah informasi terkait terduga pelaku. E disebut merupakan pria asal Sulawesi Selatan yang pernah bekerja di Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN), lembaga yang telah dibubarkan pada 2004. Meski alamat tersebut telah teridentifikasi, E diketahui kerap berpindah domisili antara Jawa Timur dan Jawa Tengah.
"Nah, dia itu pindah-pindah, Jatim, Jateng, loncat-loncat itu," katanya.
Risang menambahkan, E juga diduga memiliki rekam jejak keterlibatan dalam tindak penipuan dengan berbagai modus, mulai dari penipuan properti, proyek, hingga jual-beli. Ia menduga motif pembunuhan terkait love scam.
"Penipuan semua, ya properti, proyek, jual-beli. Kalau korban ini ya mungkin ya penipuan modusnya love scam itu," ucapnya.
Terkait asal-usul perkenalan antara korban dan terduga pelaku, Risang menduga hal itu bisa saja berkedok pencarian proyek. Namun, ia menekankan penangkapan terhadap terduga pelaku menjadi kunci untuk mengungkap kronologi awal hubungan keduanya.
"Nah, harus ditangkap dulu E-nya itu. Karena keluarga enggak kenal itu dengan E," katanya.



