KOMPAS.com - Banyak orang bertanya-tanya mengapa seseorang tetap bermain judi online meskipun telah mengalami kerugian besar, bahkan terlilit utang hingga ratusan juta rupiah. Secara logika, seharusnya seseorang berhenti ketika menyadari bahwa peluang kalah lebih besar daripada menang.
Faktor Perubahan Otak pada Pecandu Judi
Namun, dalam kasus kecanduan judi online, keputusan yang diambil tidak lagi sepenuhnya rasional. Kondisi ini berkaitan dengan perubahan cara kerja otak yang membuat seseorang terus mengejar kemenangan dan sulit menghentikan perilaku berjudi.
Mekanisme Otak yang Terpengaruh
Penelitian menunjukkan bahwa judi online memicu pelepasan dopamin, neurotransmitter yang terkait dengan kesenangan dan penghargaan. Saat menang, otak menerima lonjakan dopamin, yang memperkuat perilaku berjudi. Namun, saat kalah, otak tetap melepaskan dopamin sebagai antisipasi kemenangan berikutnya, menciptakan siklus adiktif.
- Dopamin membuat pemain terus bermain meskipun rugi.
- Kekalahan dianggap sebagai bagian dari proses menuju kemenangan.
- Otak kehilangan kemampuan untuk menilai risiko secara objektif.
Dampak Sosial dan Finansial
Kecanduan judi online tidak hanya merugikan secara finansial, tetapi juga berdampak pada hubungan sosial. Banyak pecandu yang menjual barang berharga atau bahkan menggunakan identitas orang lain untuk berjudi, seperti yang terjadi pada kasus anak yang diam-diam menggunakan identitas orang tua.
Langkah Mengatasi Kecanduan
Untuk keluar dari jeratan judi online, diperlukan bantuan profesional seperti konseling atau terapi perilaku kognitif. Dukungan keluarga juga sangat penting untuk membantu pecandu mengembalikan kendali atas hidupnya.



