TPST Bantargebang: Ancaman Longsor dan Sumber Penghidupan Warga Pemulung
Alarm bahaya di Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang terus berdering, namun upaya konkret mengurangi volume sampah yang bermuara ke sana belum menunjukkan titik terang. Gunungan sampah raksasa itu bukan sekadar simbol kegagalan pengelolaan sampah Jakarta dan sekitarnya, melainkan juga menyimpan dilema kompleks bagi warga yang menggantungkan hidup di antara tumpukan limbah.
Kondisi Kritis dan Ancaman Longsor
Wijiyono (50), warga yang sehari-hari beraktivitas di sekitar TPST Bantargebang, menggambarkan kondisi terkini yang mengkhawatirkan. "Ini sebenarnya sudah tidak layak, overload, bisa dilihat tumpukan sudah keras," ujarnya. Longsor yang terjadi akhir pekan lalu menewaskan tiga orang, mempertegas ancaman yang terus membayangi.
Struktur sampah yang memadat membuat tanah di bawahnya tidak stabil. Meski permukaan terlihat keras, lapisan dalam tetap berpotensi bergerak saat diguyur hujan deras. "Kalau ibaratnya mau dipagar pun pasti mengeluarkan biaya lagi, tapi kalau hujannya tidak terlalu melebihi, kemungkinan sudah hampir aman," kata Wijiyono.
Arus Sampah yang Tak Pernah Berhenti
Di tengah upaya warga memilah limbah, kiriman sampah ke Bantargebang terus mengalir setiap hari dari berbagai daerah. "Dari mall, supermarket, sekarang semakin banyak, bukannya mengurangi malah bertambah," keluh Wijiyono. Pertumbuhan permukiman dan aktivitas bisnis turut meningkatkan volume sampah yang masuk.
Meski banyak pemulung berusaha mengurangi tumpukan dengan mengumpulkan limbah plastik untuk daur ulang, keterbatasan tenaga manusia membuat upaya tersebut tidak sebanding. "Namanya juga tenaga manusia terbatas. Misalnya ada 10 orang, dalam satu hari saja mobil sudah mengangkut sampah berapa banyak," ujarnya.
Strategi Bertahan di Tengah Keterbatasan
Para pemulung mengembangkan strategi khusus untuk memaksimalkan pendapatan. Mereka tidak langsung menjual barang yang dikumpulkan, melainkan menimbunnya terlebih dahulu hingga jumlahnya cukup banyak. "Kita tumpuk dulu, kira-kira sebulan baru dapat semobil penuh. Kalau dijual perhari, dapatnya sedikit, tidak ada untungnya," jelas Wijiyono.
Proses pembersihan juga dilakukan untuk meningkatkan nilai jual. Limbah plastik kemasan minuman menjadi incaran utama karena harganya lebih mahal, terutama setelah dipilah berdasarkan warna.
Longsor Terparah dan Faktor Cuaca
Longsor terbaru dinilai lebih parah dibandingkan insiden sebelumnya. "Lebarnya longsor baru ini lebih parah, hujan derasnya melebihi target," kata Wijiyono. Hujan deras membuat lapisan sampah semakin labil, dengan air yang meresap ke dalam membuat bagian bawah basah dan licin.
Upaya teknis seperti penggunaan pompa air untuk mengurangi genangan membutuhkan biaya besar, sehingga penanganan sering terbatas pada upaya sederhana oleh warga dan pekerja setempat.
Dilema Ekonomi dan Lingkungan
Warga menyadari kondisi TPST Bantargebang sudah sangat mengkhawatirkan, namun menghentikan aktivitas pembuangan bukan perkara mudah. "Kalau kita sebagai warga melarang, kadang-kadang kalau sudah uangnya dipegang di tangan susah. Kita demo bagaimana pun, uangnya sudah dipegang duluan sama pengelola," ungkap Wijiyono.
Kondisi ini menciptakan dilema mendalam: di satu sisi ancaman longsor nyata, di sisi lain aktivitas pengelolaan sampah telah menjadi roda ekonomi yang sulit dihentikan. Bagi masyarakat sekitar, tumpukan sampah yang mengancam keselamatan juga menjadi sumber penghidupan sehari-hari.
Harapan dan Usulan Penanganan
Warga berharap aktivitas pembuangan bisa dihentikan sementara. "Yang penting untuk sementara ini warga meminta stop dulu," tegas Wijiyono. Ia mengkhawatirkan jika pembuangan terus berlangsung, kondisi akan semakin sulit dikendalikan.
Langkah sementara yang diusulkan adalah merapikan dan memadatkan kembali tumpukan sampah yang sudah ada. Namun masalah mendasar tetap sama: keterbatasan tempat menampung sampah yang terus berdatangan dari berbagai daerah.



