Menteri LH Tegaskan Sinergi Pusat dan Daerah Hadapi Lonjakan Titik Panas dan Karhutla 2026
Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (LH/BPLH) Hanif Faisol Nurofiq menekankan pentingnya penguatan sinergi antara pemerintah pusat dan daerah dalam pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tahun 2026. Penegasan ini disampaikan dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Karhutla Tahun 2026, sebagai respons terhadap data pemantauan yang menunjukkan peningkatan signifikan jumlah titik panas di awal tahun.
Lonjakan Drastis Titik Panas dan Lahan Terbakar
Berdasarkan pantauan satelit Terra Aqua dengan tingkat kepercayaan tinggi hingga 5 April 2026, secara nasional tercatat sebanyak 700 titik panas. Angka ini meningkat hampir tiga kali lipat dibandingkan periode yang sama sejak awal Januari tahun 2025, seperti diungkapkan Hanif dalam keterangan resmi dari Kementerian LH.
Selain itu, luas lahan yang terbakar hingga Februari 2026 telah mencapai 32.637,48 hektare. Ini melonjak 20 kali lipat dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya, menunjukkan skala darurat yang memerlukan penanganan segera. Hanif menegaskan bahwa upaya pengendalian karhutla di tahun 2026 ini merupakan bukti komitmen terhadap kemanusiaan dan keberlanjutan ekosistem.
Operasional dan Langkah Strategis yang Diperkuat
Menteri Hanif menambahkan bahwa langkah operasional pengendalian karhutla perlu segera diperkuat dan dilaksanakan secara bersama-sama, sesuai dengan amanat Instruksi Presiden Nomor 3 Tahun 2020 tentang Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan. Ia mengingatkan bahwa musim kemarau tahun 2026, berdasarkan rilis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), diperkirakan akan berdampak serius pada berbagai sektor, termasuk peningkatan risiko kebakaran hutan dan lahan.
Untuk itu, pemerintah daerah diimbau untuk segera mengambil langkah-langkah strategis, seperti:
- Menetapkan status siaga darurat bencana karhutla.
- Mengintensifkan upaya pencegahan melalui patroli dan pemantauan.
- Memastikan kesiapsiagaan sumber daya manusia, sarana prasarana, dan pembiayaan.
- Mengaktifkan kembali satuan tugas terpadu di tingkat provinsi dan kabupaten/kota.
Penegakan hukum terhadap pihak-pihak yang menyebabkan kebakaran juga harus dilakukan secara tegas dan konsisten, sementara masyarakat diimbau untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar.
Dampak Karhutla dan Seruan Sinergi
Hanif menjelaskan bahwa karhutla merupakan salah satu kontributor terbesar emisi gas rumah kaca yang mempercepat pemanasan global. Dampaknya tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga menimbulkan gangguan kesehatan kronis bagi masyarakat serta kerugian ekonomi yang mencapai triliunan rupiah.
"Pemerintah menegaskan bahwa pengendalian karhutla bukan sekadar tugas rutin, melainkan upaya bersama yang membutuhkan sinergi semua pihak untuk menghadapi krisis iklim dan melindungi masa depan generasi mendatang," tutup Menteri Hanif. Dengan data yang menunjukkan lonjakan drastis, sinergi pusat dan daerah menjadi kunci dalam mitigasi bencana lingkungan ini tahun 2026.



