Banjir Parah Rendam Permukiman Tangerang, Air Capai 2 Meter
Kondisi banjir di Kota Tangerang masih belum mereda pada hari kedua pasca hujan deras mengguyur wilayah tersebut. Ratusan rumah di Kecamatan Periuk dan sekitarnya tetap terendam air, dengan ketinggian mencapai hingga 2 meter di beberapa titik. Bahkan, di permukiman tertentu, hanya atap rumah yang masih terlihat menyembul di atas permukaan air yang menggenang.
Warga Mengungsi dan Hanya Bisa Pasrah
Seperti yang dialami oleh Bagas, warga Perumahan Total Persada di Kelurahan Gembor, Kecamatan Periuk, rumahnya telah terendam banjir sejak hari sebelumnya. Hal ini memaksa keluarganya untuk mengungsi ke tempat yang lebih tinggi demi keselamatan. "Sekarang masih 2 meter kalau yang di belakang dekat tanggul," ujar Bagas yang sesekali ikut berpatroli dengan warga lain menggunakan perahu karet untuk memantau kondisi permukiman.
Banjir setinggi 2 meter juga melanda Perumahan Periuk Damai, dan ini bukanlah kejadian pertama di tahun ini. Banyak warga yang merasa pasrah menghadapi situasi ini, mengingat banjir telah menjadi masalah berulang yang sulit dihindari.
Langkah Penanganan Darurat dari Pemerintah Kota
Wali Kota Tangerang, Sachrudin, memastikan bahwa langkah penanganan darurat telah dilakukan oleh Pemerintah Kota Tangerang. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tangerang, banjir terjadi di beberapa kecamatan, termasuk:
- Periuk
- Cipondoh
- Karang Tengah
- Jatiuwung
- Ciledug
- Cibodas
- Pinang
- Larangan
- Karawaci
- Benda
Di Kecamatan Periuk saja, tercatat setidaknya ada 25 titik banjir yang memerlukan perhatian serius. Sachrudin menjelaskan bahwa evakuasi telah dilakukan bagi warga yang membutuhkan, posko darurat dan kesehatan telah disiagakan, serta pompa air dimaksimalkan untuk mengurangi genangan. "Pemkot Tangerang melalui BPBD bersama unsur terkait terus melakukan penanganan cepat di lapangan," tegasnya.
Rencana Jangka Panjang untuk Minimalkan Banjir
Selain penanganan darurat, Pemkot Tangerang juga mempercepat upaya jangka panjang untuk meminimalisir potensi banjir di masa depan. Salah satu rencana yang sedang digarap adalah pembangunan tandon-tandon air dengan memanfaatkan lahan milik Jasa Marga dan Kementerian Pekerjaan Umum (PU). Langkah ini dianggap penting karena beberapa wilayah terdampak banjir akibat limpasan air dari kawasan jalan tol.
"Koordinasi dengan Kementerian PU sangat krusial agar aliran air dari jalan tol tidak lagi membebani wilayah permukiman warga, khususnya di kawasan Gempol. Secara internal, pembangunan tandon baru tahun ini juga terus kita akselerasi sebagai bagian dari solusi permanen penanganan banjir," jelas Sachrudin. Dengan demikian, diharapkan masalah banjir di Tangerang dapat ditangani secara lebih efektif dan berkelanjutan.



