Pemilik Dapur MBG di Ponorogo Klaim Cucu Menteri, Potong Anggaran Jadi Rp6.500 per Porsi
Dalam sebuah kasus yang mengejutkan, pemilik dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) di Ponorogo, Jawa Timur, dilaporkan mengaku sebagai cucu seorang menteri untuk menekan para pengelola. Lebih parah lagi, yayasan yang menaungi dapur tersebut diduga memotong anggaran pembelian bahan pangan dari Rp10.000 menjadi hanya Rp6.500 per porsi, menyebabkan kepala Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi (SPPG) harus menutup kekurangan dari kantong pribadi.
Intimidasi dan Tekanan terhadap Kepala SPPG
Dua kepala SPPG dari Ponorogo, yaitu Rizal Zulfikar Fikri dari Kauman Somorto dan Moch. Syafi'i Misbachul Mufid dari Jambon Krebet, menghadapi tekanan berat dari yayasan pengelola. Mereka melaporkan bahwa selama berbulan-bulan, bersama pengawas gizi dan keuangan, mereka terus diintimidasi oleh yayasan yang mengklaim dimiliki oleh cucu menteri. Bahkan, yayasan tersebut mengancam akan mendatangkan polisi atau pengacara jika keinginannya tidak diikuti.
"Mau enggak mau, kami nombok, saya kasihan sama adik-adik siswa penerima manfaat," ungkap Mufid, menggambarkan betapa mereka terpaksa mengeluarkan uang sendiri agar menu makanan tetap layak disajikan.
Respons Tegas dari Badan Gizi Nasional
Mendengar keluhan ini, Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Nanik Sudaryati Deyang, langsung mengambil tindakan. Ia menugaskan Direktur Pemantauan dan Pengawasan Wilayah II BGN, Brigjen TNI Albertus Dony Dewantoro, untuk melakukan inspeksi mendadak ke kedua dapur tersebut. Nanik menyatakan kemarahannya atas perlakuan tidak manusiawi yang dialami para kepala SPPG.
"Hentikan! Kalau perlu selamanya, kalau mereka tidak menunjukkan perbaikan sikap mereka kepada Kepala SPPG, Pengawas Gizi, dan Pengawas Keuangan," tegas Nanik, memerintahkan penutupan dapur jika tidak ada perbaikan.
Klaim Cucu Menteri Terbantahkan
Nanik juga menghubungi menteri yang diklaim memiliki hubungan keluarga dengan pemilik yayasan. Dengan jelas, menteri tersebut membantah memiliki cucu bernama X yang mengelola dapur MBG, bahkan menegaskan bahwa jika ada orang yang mengaku sebagai keluarganya, SPPG tersebut harus ditutup. Hal ini mengungkap kebohongan yang digunakan untuk mengintimidasi para pengelola.
Kondisi Memprihatinkan Dapur MBG
Inspeksi yang dilakukan tim BGN menemukan kondisi dapur yang sangat buruk:
- Lantai dapur mengelupas dan dinding kotor, keropos, serta berjamur.
- Ruang pemorsian tidak layak, tanpa AC, dan tidak ada ruang istirahat.
- Penyimpanan bahan pangan dilakukan seadanya dan tidak terpisah.
- Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) tidak memadai, hanya menggunakan buis beton yang hampir meluap dan ditutup triplek tipis.
Brigjen Dony menegaskan, "Dapur-dapur ini sangat tidak layak untuk dilanjutkan." Para kepala SPPG terpaksa merogoh kocek pribadi untuk perbaikan karena yayasan enggan mengeluarkan dana.
Dampak dan Langkah Selanjutnya
Kasus ini menyoroti penyimpangan serius dalam program MBG, yang seharusnya memberikan nutrisi gratis kepada siswa. BGN telah berkomitmen untuk meningkatkan pengawasan, termasuk bekerja sama dengan Kejaksaan Agung, guna mencegah kejadian serupa di masa depan. Perlindungan bagi para pengelola SPPG juga menjadi prioritas untuk memastikan program berjalan sesuai tujuan awal.



