Pesawat pembom B-52 Stratofortress mengalami kecelakaan tragis tak lama setelah lepas landas dari Pangkalan Angkatan Udara Edwards, timur laut Los Angeles, Amerika Serikat, pada Senin (15/6/2026). Insiden ini menewaskan delapan orang yang berada di dalam pesawat. B-52 merupakan salah satu alutsista strategis andalan Angkatan Udara AS yang telah beroperasi selama lebih dari enam dekade.
Kronologi Kecelakaan
Menurut laporan CNN, pesawat B-52 jatuh saat menjalani misi uji coba rutin. Pesawat lepas landas pukul 11.20 waktu setempat dari landasan pacu Pangkalan Edwards. Seluruh delapan awak pesawat dilaporkan tewas dalam kecelakaan yang menyisakan bekas hangus besar di landasan pacu berpasir.
Kolonel James Hayes dalam konferensi pers menyatakan, "Ini tragis dan tidak mungkin selamat." Sementara itu, Kepala Sersan Utama Joshua T. Skarloken menambahkan bahwa tim sedang berupaya memberi tahu keluarga korban. Boeing, produsen pesawat, mengonfirmasi dua karyawannya berada dalam penerbangan tersebut. Awak pesawat terdiri dari campuran personel militer, warga sipil pemerintah, dan kontraktor pemerintah.
Spesifikasi B-52 Stratofortress
B-52 adalah pesawat bomber strategis buatan Boeing yang telah menjadi tulang punggung kekuatan pembom AS selama lebih dari 60 tahun. Model H yang masih beroperasi memiliki spesifikasi sebagai berikut:
- Mesin: Delapan mesin turbofan Pratt & Whitney TF33-P-3/103, masing-masing dengan daya dorong hingga 17.000 pon (7.711 kg).
- Dimensi: Rentang sayap 56,4 meter, panjang 48,6 meter, tinggi 12,4 meter.
- Berat: Berat kosong 83.915 kg, berat lepas landas maksimum 221.353 kg.
- Kapasitas bahan bakar: 141.610 kg, dengan muatan hingga 31.751 kg.
- Kecepatan: Mach 0,88, jangkauan 7.647 mil laut, ketinggian operasi maksimum 15.240 meter.
- Persenjataan: Mampu membawa bom gravitasi, bom kluster, rudal berpemandu presisi, amunisi serangan langsung gabungan, dan bom nuklir. Model H dapat membawa hingga 20 rudal jelajah yang diluncurkan dari udara.
- Harga: Sekitar USD 84 juta per unit (Rp 1,5 triliun).
Sejarah Operasional
B-52 pertama kali terbang pada tahun 1954 dan mulai beroperasi pada 1955. Sebanyak 744 unit dibangun, dengan model H terakhir dikirim pada Oktober 1962. Pesawat ini telah terlibat dalam berbagai operasi militer, termasuk:
- Operasi Badai Gurun (1991) dan Perang Teluk: Menyerang konsentrasi pasukan, instalasi tetap, bunker, dan menghancurkan Garda Republik Irak.
- Operasi Allied Force di Yugoslavia (1999).
- Operasi Desert Strike (1996): Dua B-52H menyerang pembangkit listrik dan fasilitas komunikasi Baghdad dengan rudal jelajah AGM-86C, dalam misi tempur jarak terjauh saat itu (16.000 mil, 34 jam pulang-pergi dari Barksdale, Louisiana).
- Operasi Enduring Freedom di Afghanistan (2001).
- Operasi Iraqi Freedom (2003): Meluncurkan sekitar 100 rudal jelajah CALCM dalam misi malam hari.
- Operasi Inherent Resolve (2016): Menerbangkan sekitar 1.800 sorti tempur melawan ISIS di Suriah dan Irak.
Saat ini, hanya model H yang masih digunakan, ditugaskan ke Sayap Bom ke-5 di Min Air Force Base, Dakota Utara, dan Sayap Bom ke-2 di Barksdale Air Force Base, Louisiana, di bawah Komando Serangan Global Angkatan Udara. Pesawat ini juga ditugaskan ke Sayap Bom ke-307 Komando Cadangan Angkatan Udara. Angkatan Udara AS memperkirakan akan mengoperasikan B-52 hingga tahun 2050.
Kecelakaan ini terjadi saat pesawat sedang melakukan uji coba untuk mendukung program modernisasi radar. Investigasi lebih lanjut masih dilakukan untuk mengetahui penyebab pasti jatuhnya pesawat.



