Kasus pengeroyokan yang menimpa seorang siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Bogor akhirnya mencapai titik damai. Peristiwa yang sempat viral di media sosial ini melibatkan sejumlah pelajar yang menginjak-injak korban. Keluarga dari kedua belah pihak telah sepakat untuk berdamai.
Video Viral dan Penyelidikan
Video pengeroyokan yang memperlihatkan seorang remaja bertelanjang dada tertelungkup di gang sempit di antara bangunan beredar luas di media sosial. Dalam rekaman tersebut, tampak sekitar lima orang berseragam sekolah berdiri mengelilingi korban. Awalnya, video tersebut dinarasikan sebagai aksi pengeroyokan antarsesama pelajar. Polisi kemudian melakukan penyelidikan dan berhasil mengamankan enam terduga pelaku.
Proses Perdamaian
Perdamaian tercapai setelah pertemuan antara keluarga pelaku dan korban. Perwakilan keluarga pelaku, Devi, menyatakan bahwa kedua pihak telah berdiskusi dan sepakat untuk berdamai dengan tanggung jawab berupa kompensasi kepada korban. "Kami memutuskan untuk damai dari kedua belah pihak, dengan tanggung jawab tentunya, kompensasi terhadap korban," ujar Devi di Polresta Bogor Kota.
Devi juga meminta maaf atas insiden tersebut dan berharap para pelaku mendapatkan pembinaan agar tidak mengulangi perbuatannya. Sementara itu, orang tua korban, Iis, mengaku telah memaafkan pelaku. "Yang penting ke depannya mereka tidak terulang lagi, saya sudah memaafkan semuanya," kata Iis.
Motif Pengeroyokan
Kapolsek Bogor Timur AKP Asep Sundana mengungkapkan bahwa pengeroyokan terjadi karena korban hendak bergabung dengan kelompok atau geng para pelaku. "Pemicunya itu si korban ini kan mau masuk ke kelompok mereka itu, jadi semacam diospek ya, cuma dengan cara begitu," jelas Asep. Kanit Reskrim Polsek Bogor Timur Iptu Iwan Heri Setiawan menambahkan bahwa tradisi ospek ini merupakan syarat bagi calon anggota baru geng BRAK. "Jadi ada tradisi menurut mereka, bagi yang baru masuk. Ya diospek gitu lah istilahnya," kata Iwan.
Dengan adanya perdamaian ini, diharapkan tidak ada lagi kekerasan serupa di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah. Pihak berwenang juga akan melakukan pembinaan terhadap para pelaku agar tidak mengulangi perbuatannya.



