Jakarta - Suasana ramai, panas, dan tidak tertata masih melekat di benak Muhammad Iqbal El Mubarak saat tiba di Stasiun Bekasi Timur pada 27 April 2026 malam. Satu jam sebelumnya, tabrakan maut antara KRL dan KA Argo Bromo Anggrek terjadi. Iqbal, yang tengah menyetir pulang dari mal, langsung menuju lokasi dan menunda kepulangannya.
Proses Evakuasi yang Menegangkan
Setelah mendapat akses masuk, dokter spesialis bedah itu bergabung dengan tim medis dan bergegas ke gerbong perempuan. Di sana, lima orang korban terjepit hebat. Iqbal menuturkan kondisi kelimanya semakin lemah, terlihat dari denyut nadi yang menurun.
"Kaki para korban terjepit material kereta karena lantai kereta terangkat dan berlipat-lipat. Ankle mereka benar-benar terjepit, sulit ditarik," jelas Iqbal dalam program Sosok detikcom, Senin (18/5/2026).
Sambil menstabilkan kondisi vital korban, Iqbal menyaksikan tim Basarnas berusaha menyingkirkan material. Namun, setiap besi bergeser, jeritan korban melengking nyaring.
Keputusan Membius Total
Iqbal sadar korban tak akan selamat jika evakuasi dilakukan dalam kondisi sadar. Ragu sempat muncul, tetapi segera ia tepis. "Sempat bingung. Mau bagaimana kita menanganinya? Tapi kami tetap optimistis. Di bedah ada semboyan, 'Pantang pulang sebelum tugas berhasil'. Korban yang masih hidup ini tidak boleh meninggal di depan mata saya," tegasnya.
Malam semakin larut, Iqbal berpacu dengan waktu. Momen itu mengingatkannya saat menjadi relawan di berbagai krisis: Aceh Tamiang, Sigi, Lombok, Myanmar, Turki, hingga Gaza. Pengalaman itu menyiapkannya untuk hadir saat darurat.
Di tengah kepanikan, Iqbal mencetuskan ide membius total korban agar tidak merasakan sakit saat material disingkirkan. Gagasan itu muncul setelah teringat misi penyelamatan tim sepak bola Wild Boars di gua Tham Luang, Thailand, 2018.
Lima Nyawa Selamat
Orang pertama yang dibius adalah Nurul, 21 tahun. Setelah menjelaskan prosedur, Iqbal menyuntikkan obat bius. Tim Basarnas cepat menyingkirkan material dan menggotongnya keluar. Begitu pula korban kedua hingga kelima.
Langit mulai terang, rasa lelah menghantam Iqbal. Namun, di balik letih, rasa lega menyeruak. Sekali lagi, ia berhasil menyelamatkan nyawa yang berada di ujung tanduk.
Kini, Iqbal kembali ke rutinitas di RSUD Kramat Jati. Namun, panggilan untuk membantu korban bencana tak pernah jauh. "Yang penting bagi saya, saya bahagia. Bisa memberikan kontribusi kepada umat, masyarakat, dan bangsa. Saya ke daerah perang, minum susah, makan susah, terancam nyawa? Tapi ada kebahagiaan, titik spiritual tersentuh. Saya bahagia melakukan ini," tuturnya.



