Tekanan Karier Dorong Anak Buah Hitler Jadi Pembunuh Demi Promosi
Tekanan Karier Dorong Anak Buah Hitler Jadi Pembunuh

Jakarta - Tak tampak rasa penyesalan di mata Waldemar Klingelhöfer. Sebuah foto dari pengadilan kejahatan perang pasca Perang Dunia II memperlihatkan SS-Sturmbannführer yang menatap kamera dengan tenang. Kemeja kotak-kotaknya dikancingkan rapi, alisnya berkerut, namun wajahnya tak menunjukkan emosi.

Foto tersebut diambil selama persidangan di Nürnberg pada tahun 1947 atau 1948, tepat sebelum Klingelhöfer dijatuhi hukuman mati atas kejahatan terhadap kemanusiaan dan keanggotaannya dalam organisasi kriminal.

Dari Penyanyi Opera Menjadi Pembunuh untuk Nazi

Sebelum bergabung dengan pasukan pembunuh bentukan Hitler, Klingelhöfer adalah seorang penyanyi opera. Pada tahun 1935, ia meninggalkan teater negara bagian Kassel untuk mengambil alih Departemen Kebudayaan SD, badan intelijen Nazi yang dipimpin Reinhard Heydrich. Salah satu tugasnya adalah menganalisis efektivitas propaganda Nazi.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Pada tahun 1941, Klingelhöfer yang fasih berbahasa Rusia bergabung dengan Einsatzgruppe B, awalnya hanya sebagai penerjemah. Selama Holokaus, Einsatzgruppen adalah unit khusus yang bertugas memusnahkan penduduk Yahudi di Eropa Timur. Di sana, ia naik pangkat menjadi pemimpin unit penyerbu, salah satu pangkat tertinggi di Vorkommando Moskow, di mana ia memerintahkan dan secara langsung mengeksekusi mereka yang tidak bersalah.

Apa yang Mendorong Seorang Penyanyi Opera Menjadi Pembunuh?

Christian Gläel, seorang ilmuwan politik di Pusat Keamanan Internasional di Hertie School Berlin, memiliki jawaban sederhana: tekanan karier. Bersama Adam Scharpf, ia meneliti ribuan data perwira militer Argentina sejak tahun 1870. Mereka menemukan pola: semakin buruk kinerja seorang perwira, semakin besar kemungkinan ia bergabung dengan polisi rahasia untuk menyelamatkan karier.

"Mereka seringkali adalah orang-orang yang telah ditolak oleh sistem atau tidak lagi mampu berkarir," jelas Gläel. "Di situlah orang-orang terpaksa mengambil langkah ekstrem dan menunjukkan kesetiaan dengan melakukan pekerjaan kotor rezim."

Bukan Ideologi, Melainkan Tekanan Karier

Penelitian ini berawal dari komentar saat kunjungan Scharpf ke Argentina, bahwa polisi rahasia dipenuhi oleh "orang-orang bodoh." Setelah menganalisis data, mereka menyadari bahwa militer Argentina beroperasi sebagai lembaga meritokratis. Mereka yang berkinerja baik naik pangkat, sementara yang berkinerja buruk dipecat. Bagi yang berkinerja buruk, polisi rahasia menjadi jalan pintas untuk naik jenjang karier.

Mereka akan menghabiskan beberapa tahun di polisi rahasia dan kemudian mendapatkan posisi bergaji lebih tinggi di bagian lain militer. Semakin besar tekanan yang mereka hadapi, semakin besar kemungkinan mereka melakukan penyiksaan dan pembunuhan demi menyelamatkan karier.

Meritokrasi: Ancaman bagi Demokrasi?

Bagi Gläel, ini adalah efek samping dari sistem meritokrasi yang melahirkan pemenang dan pecundang. "Para pecundang merupakan sumber daya manusia yang dapat dimanfaatkan oleh seorang otokrat," katanya. Penelitiannya menunjukkan bahwa sistem berbasis kinerja dapat mendorong orang biasa melakukan kejahatan ekstrem.

Para peneliti juga meneliti kasus individu dari Nazi Jerman, Gambia, dan Uni Soviet, termasuk kasus Waldemar Klingelhöfer. Mereka menemukan bahwa sebagian besar anggota Einsatzgruppen adalah pendatang baru dengan sedikit atau tanpa pengalaman kepolisian, sehingga merasa perlu membuktikan diri.

Klingelhöfer bukan satu-satunya. Di antara mereka terdapat pengacara, profesor, sejarawan seni, dokter gigi, dan bahkan pendeta Ernst Biberstein, yang memerintahkan pembunuhan ribuan orang di Kyiv.

Tidak Ada Jaminan Promosi

Tekanan karier juga berperan di SS dan SD, dengan Heydrich dan Himmler sengaja menumbuhkan iklim persaingan. Himmler berpendapat bahwa perlu melakukan "proses seleksi yang menyeluruh" agar yang tersisa bekerja lebih keras. Heydrich menggambarkan tugas di Einsatzgruppen sebagai "kesempatan untuk membuktikan diri dan meraih penghargaan."

Namun, ideologi juga berperan. Anggota Einsatzgruppen telah diindoktrinasi secara intensif, dan komandan seperti Biberstein dan Klingelhöfer dipilih langsung oleh Heydrich dan Himmler. Klingelhöfer sendiri telah bergabung dengan asosiasi antisemitisme "Young German Order" pada tahun 1920 dan menerbitkan buku tentang "pengaruh orang Yahudi dan Freemason" sebelum bekerja di SD.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga

Belajar dari Sejarah

Christian Gläel berharap penelitiannya menjadi peringatan. Menurutnya, bahkan sistem yang tampak stabil seperti demokrasi menghasilkan pemenang dan pecundang, sehingga akan selalu ada pendatang baru yang bersedia melakukan kejahatan untuk naik pangkat. Contohnya, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth yang sebelumnya pembawa acara Fox News, atau mantan perwira polisi Brasil Marcelo Xavier da Silva yang memimpin FUNAI di bawah Jair Bolsonaro.

"Mereka yang tidak belajar dari sejarah akan terjerumus ke dalamnya," kata Gläel.