Wamendagri: Bencana adalah Ujian bagi Sistem
Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto menegaskan bahwa ketangguhan sebuah kota dalam menghadapi bencana sangat ditentukan oleh kualitas sistem yang dibangun oleh pemerintah daerah (Pemda). Pernyataan ini disampaikan Bima dalam sesi berbagi inspirasi bertajuk 'Inspirasi Kota Tangguh' pada kegiatan Youth City Changers (YCC) yang digelar dalam rangka Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) 2026 di Ballroom Kartini, Hotel Le Polonia, Medan, Minggu (28/6/2026).
Menurut Bima, bencana merupakan ujian yang menguji berbagai aspek, mulai dari sistem, kepemimpinan, komunikasi, hingga keandalan data. "Bencana adalah ujian bagi sistem. Barang siapa kota yang pemimpinnya mampu membangun sistem, maka akan lebih tangguh terhadap bencana. Bencana juga adalah ujian bagi kebersamaan, kepemimpinan, komunikasi, dan pada akhirnya tentang data," ujar Bima dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Senin (29/6/2026).
Perkuat Mitigasi dan Kolaborasi dengan Ahli
Bima Arya mengidentifikasi bahwa salah satu aspek yang masih perlu diperkuat di banyak daerah adalah perencanaan mitigasi bencana. Untuk itu, ia mendorong Pemda untuk menjalin kolaborasi dengan para ahli kebencanaan agar setiap potensi risiko dapat dipetakan, diantisipasi, dan ditangani melalui langkah-langkah yang terencana dan sistematis. Kolaborasi ini diharapkan mampu menciptakan fondasi yang kuat bagi ketangguhan kota dalam menghadapi bencana alam maupun non-alam.
Lebih lanjut, Wamendagri mengajak generasi muda untuk berperan aktif dalam penanganan bencana melalui pendekatan yang lebih menyeluruh. Ia menekankan bahwa keterlibatan masyarakat tidak hanya dibutuhkan dalam penyaluran bantuan, tetapi juga dalam memberikan pendampingan kepada kelompok rentan agar proses pemulihan berlangsung lebih aman, inklusif, dan berkelanjutan.
Perhatikan Aspek Psikososial dan Perlindungan Rentan
Bima Arya menyoroti bahwa kondisi di lokasi pengungsian sering kali menyisakan persoalan yang luput dari perhatian. Ia menyebutkan beberapa aspek penting yang kerap terabaikan, seperti trauma healing, konseling, serta upaya preventif untuk mencegah kekerasan seksual dan pelecehan berbasis gender. "Kondisi di lokasi pengungsian sering kali menyisakan persoalan yang luput dari perhatian. Trauma healing, konseling, preventif untuk kekerasan seksual dan pelecehan berbasis gender, itu sering kali enggak jadi bagian dari rehabilitasi bencana," pungkas Bima.
Pernyataan ini menegaskan pentingnya pendekatan holistik dalam penanggulangan bencana, yang tidak hanya berfokus pada aspek fisik dan material, tetapi juga pada pemulihan psikologis dan perlindungan kelompok rentan. Dengan memperkuat sistem, kepemimpinan, kolaborasi, dan pemanfaatan data, Bima optimistis kota-kota di Indonesia dapat menjadi lebih tangguh dan siap menghadapi berbagai risiko bencana di masa depan.



