Satgas PRR Manfaatkan Kayu Hanyut untuk Pembangunan Huntara Korban Bencana
Tim Satuan Tugas Penanganan dan Rehabilitasi Pascabencana (Satgas PRR) Sumatera telah berhasil mengumpulkan kayu-kayu yang hanyut akibat bencana untuk dimanfaatkan kembali. Material tersebut kini menjadi bagian penting dalam pembangunan hunian sementara bagi masyarakat yang terdampak.
Volume Kayu yang Berhasil Dikumpulkan Mencapai Ribuan Meter Kubik
Juru Bicara Satgas PRR Pascabencana Sumatera, Amran, mengungkapkan bahwa timnya telah berhasil mengumpulkan sekitar 2.684,51 meter kubik kayu hanyut. Pengumuman ini disampaikan langsung di kantor Kementerian Dalam Negeri di Jakarta Pusat pada hari Senin, 9 Maret 2026.
"Nah, kemudian data menunjukkan bahwa sekitar 2.684,51 meter kubik kayu hanyut telah berhasil dikumpulkan," jelas Amran dengan tegas. Ia menambahkan bahwa kayu-kayu tersebut tidak dibiarkan sia-sia, melainkan dialihfungsikan untuk kepentingan masyarakat yang membutuhkan.
Material Kayu Dijadikan Pendukung Pembangunan Hunian Sementara
Amran menegaskan bahwa kayu yang berhasil dikumpulkan tersebut secara langsung dimanfaatkan untuk membantu proses pemulihan pascabencana. Sebagian besar material kayu tersebut dialokasikan sebagai material pendukung pembangunan hunian sementara (huntara).
"Sebagian dimanfaatkan untuk material pendukung pembangunan sementara bagi masyarakat terdampak," ucap Amran. Langkah ini dinilai sangat strategis karena selain membersihkan lingkungan dari puing-puing kayu, juga sekaligus menyediakan bahan bangunan yang dibutuhkan untuk pemulihan.
Pembersihan Lumpur Juga Dilakukan Secara Intensif di Berbagai Lokasi
Selain fokus pada pengumpulan kayu hanyut, Satgas PRR Pascabencana Sumatera juga terus melakukan pembersihan lumpur di berbagai titik yang terdampak. Berdasarkan data terbaru, dari total 508 lokasi yang menjadi sasaran pembersihan lumpur di tiga provinsi, sebanyak 406 lokasi telah berhasil dibersihkan.
"Satgas PRR Pascabencana sudah melaksanakan pembersihan secara maksimal dan berdasarkan data per hari ini telah dari 508 lokasi ya yang menjadi sasaran pembersihan lumpur di tiga provinsi tersebut, sebanyak 406 lokasi telah dibersihkan," papar Amran. Ia mengakui bahwa masih ada 102 lokasi lainnya yang masih dalam proses penanganan intensif.
Komitmen Pemerintah untuk Membersihkan Sisa Lumpur yang Masih Tersisa
Amran menyatakan bahwa pemerintah melalui Satgas PRR akan terus bekerja keras untuk membersihkan sisa-sisa lumpur yang masih ada. Ia menegaskan bahwa pembersihan akan dilakukan hingga tuntas di semua lokasi yang terdampak.
"Artinya ini sudah bersih secara total 100 persen, sementara 102 lainnya masih dalam proses penanganan," kata Amran. Komitmen ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam mempercepat proses rehabilitasi dan pemulihan wilayah pascabencana di Sumatera.
Dengan upaya pengumpulan kayu hanyut dan pembersihan lumpur yang dilakukan secara simultan, diharapkan kondisi wilayah terdampak bencana dapat segera pulih dan masyarakat dapat kembali beraktivitas dengan normal.
