Kabar duka menyelimuti dunia konservasi satwa liar Indonesia. Indra, gajah jinak jantan yang menjadi ikon Taman Nasional Way Kambas (TNWK) di Lampung Timur, dilaporkan mati pada usia 42 tahun. Gajah Sumatera ini telah mengabdi selama lebih dari tiga dekade dalam berbagai kegiatan konservasi dan penanganan konflik satwa liar di Provinsi Lampung.
Kepala Balai TNWK, MHD Zaidi, membenarkan kematian Indra yang terjadi pada Minggu, 21 Juni 2026. Menurut Zaidi, Indra bukan sekadar satwa binaan, melainkan bagian dari sejarah panjang konservasi Gajah Sumatera di Way Kambas. "Indra telah memberikan kontribusi besar dalam berbagai kegiatan lapangan dan penanganan konflik satwa liar. Kepergiannya menjadi kehilangan besar bagi kami," ujarnya dalam pernyataan resmi, Kamis (25/6/2026).
Kronologi Kematian Indra
Zaidi menjelaskan bahwa Indra mati setelah tiba-tiba ambruk di area rawa Taman Nasional Way Kambas saat sedang mandi. Peristiwa itu terjadi pada sore hari saat Indra menjalani aktivitas mandi rutinnya. "Pada Minggu (21/6) sore, Indra menjalani aktivitas mandi rutin di area rawa. Namun saat hendak kembali ke kandang, gajah tersebut tiba-tiba ambruk dan tidak mampu berdiri," katanya.
Mahout pendamping bersama tim penyelamat segera melakukan upaya evakuasi dengan bantuan sejumlah gajah jinak lainnya. Namun, upaya tersebut tidak berhasil menyelamatkan Indra. Gajah berusia 42 tahun itu dinyatakan mati di lokasi kejadian.
Dedikasi Indra dalam Konservasi
Indra dikenal sebagai gajah yang tangguh dan telah menjadi bagian penting dalam upaya konservasi Gajah Sumatera di TNWK. Selama lebih dari 30 tahun, Indra terlibat dalam berbagai kegiatan, termasuk patroli hutan, penanganan konflik gajah dengan manusia, serta edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga satwa liar.
Kematian Indra menjadi kehilangan besar bagi TNWK dan dunia konservasi di Indonesia. Pasalnya, gajah jinak seperti Indra sangat langka dan memiliki peran vital dalam menjaga keseimbangan ekosistem serta mengurangi konflik antara manusia dan satwa liar.
Dampak bagi Konservasi Gajah Sumatera
Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) merupakan salah satu subspesies gajah yang terancam punah. Populasinya terus menurun akibat perburuan liar dan hilangnya habitat. Keberadaan gajah jinak seperti Indra sangat membantu upaya konservasi, terutama dalam penanganan konflik dan pemantauan populasi liar.
Dengan matinya Indra, TNWK kehilangan salah satu aset konservasi yang paling berharga. Pihak taman nasional berencana melakukan evaluasi terhadap prosedur perawatan gajah jinak untuk mencegah kejadian serupa di masa depan. Zaidi menambahkan bahwa tim medis telah melakukan pemeriksaan awal untuk mengetahui penyebab pasti kematian Indra, namun hasilnya belum diumumkan.
"Kami akan terus berupaya meningkatkan kesejahteraan satwa di TNWK, khususnya gajah jinak yang menjadi ujung tombak konservasi," tutup Zaidi.



