Tangis Pemudik di Pelabuhan Ciwandan Pecah Dengar Kabar Ibunda Meninggal
Tangis Pemudik di Pelabuhan Ciwandan Saat Ibunda Meninggal

Tangis Pemudik di Pelabuhan Ciwandan Pecah Saat Dapat Kabar Ibunda Meninggal

Sebuah peristiwa mengharukan terjadi di Pelabuhan Ciwandan, Kota Cilegon, Banten, pada Selasa (17/3/2026) dini hari. Seorang pemudik bernama Deni, yang sedang dalam perjalanan mudik ke kampung halamannya di Mesuji, Lampung, tiba-tiba menangis sesaat sebelum memasuki kapal. Tangisnya pecah setelah ia menerima kabar duka bahwa ibundanya telah meninggal dunia.

Kabar Duka di Tengah Perjalanan Mudik

Deni, yang berboncengan dengan keponakannya, sedang menunggu giliran untuk naik ke kapal ketika motor yang dikendarainya berhenti mendadak tak jauh dari zona penyangga. Polisi yang bertugas di sekitar lokasi segera mendekat dan menanyakan apa yang terjadi. Kapolsek KSKP Banten, AKP Fredo Leonard, menjelaskan bahwa Deni mendapat panggilan telepon dari kakaknya yang mengabarkan kematian ibunya.

"Saat ditanya, pemudik itu dapat kabar lewat telepon dari kakaknya kalau ibunya sudah meninggal. Saya coba menenangkan dan memintanya untuk beristirahat dulu," kata Fredo. Polisi kemudian meminta Deni untuk menepi ke lokasi yang lebih aman guna menghindari gangguan lalu lintas.

Video Panggilan yang Memilukan

Dalam upaya menghubungi keluarganya, Deni melakukan panggilan video dengan istrinya yang sudah berada di Mesuji. Melalui panggilan tersebut, ia diperlihatkan jenazah ibunya. Fredo menirukan ucapan Deni yang berlinang air mata: "Deni sudah janji mau pulang, ibu tungguin Deni. Deni sudah di pelabuhan." Tangisan Deni semakin menjadi-jadi saat menyaksikan ibunya untuk terakhir kalinya.

Polisi yang bertugas berupaya menenangkan Deni yang sudah terlihat lemas secara emosional dan fisik. Fredo sempat meminta keponakan Deni untuk mengambil alih kemudi, sementara Deni dibonceng. Selain itu, polisi juga menawarkan bantuan untuk mengantarkan Deni hingga ke tujuan.

Penolakan Bantuan dan Dukungan Moral

"Kita juga sudah menawarkan untuk mengantarkan pemudik itu sampai tujuan, tapi yang bersangkutan bersikukuh melanjutkan perjalanan," ujar Fredo. Meski menolak diantar, Deni tetap menerima dukungan moral dari petugas. Polisi kemudian memandunya masuk ke kapal agar dapat melanjutkan perjalanan mudik dengan aman.

"Kami memberikan dukungan moral serta membantu memfasilitasi agar pemudik itu dapat segera melanjutkan perjalanan menuju kampung halamannya," tambah Fredo. Dirsamapta Polda Banten, Kombes Kukuh Priyo Taruno, yang juga hadir di lokasi, mengimbau pemudik yang berduka untuk menjaga kondisi fisik selama perjalanan.

Imbauan dari Petugas Kepolisian

Kukuh menekankan pentingnya meminta bantuan jika mengalami kesulitan. "Serta tidak ragu meminta bantuan kepada petugas apabila mengalami kesulitan di perjalanan," katanya. Insiden ini mengingatkan betapa beratnya perjalanan mudik, terutama ketika diwarnai kabar duka yang tak terduga.

Peristiwa ini terjadi di tengah arus mudik Lebaran 2026, di mana jutaan orang bepergian ke kampung halaman. Pelabuhan Ciwandan menjadi salah satu titik penting bagi pemudik yang menuju Lampung dan sekitarnya. Dukungan dari petugas seperti polisi sangat krusial dalam membantu para pemudik menghadapi situasi darurat.