Tiga kru kesenian Sisingaan asal Kabupaten Subang meninggal dunia setelah diduga tersengat listrik saat mengikuti arak-arakan hajatan khitanan warga di Desa Mekarmukti, Kecamatan Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi, Selasa sore. Insiden tersebut juga menyebabkan dua kru lainnya mengalami luka bakar.
Kronologi Kejadian
Kapolres Metro Bekasi, Komisaris Besar Polisi Sumarni, mengatakan polisi masih menyelidiki penyebab pasti kejadian tersebut. Sejumlah langkah telah dilakukan, mulai dari olah tempat kejadian perkara, pemasangan garis polisi, pemeriksaan saksi, hingga koordinasi dengan rumah sakit yang menangani korban.
Berdasarkan keterangan awal, peristiwa bermula saat rombongan Sisingaan melintas dalam arak-arakan hajatan warga. Salah satu personel yang berada di atas kendaraan pengangkut sistem suara diduga berusaha mengangkat kabel listrik yang melintang di jalur iring-iringan. Saat itulah korban diduga tersengat aliran listrik. Arus kemudian diduga merambat ke sejumlah kru lain yang berada di sekitar kendaraan pengangkut sistem suara berbahan besi tersebut.
Korban Jiwa dan Luka Bakar
Akibat kejadian itu, Galang (18), Juhan (20), dan Rinto (29) meninggal dunia. Sementara dua korban lainnya, Rizal (18) dan Rizki (22), mengalami luka bakar dan telah mendapatkan perawatan medis di RS Radjak Cibeureum, Cikarang Utara. Menurut Sumarni, Rizal mengalami luka bakar pada bagian kaki, sedangkan Rizki mengalami luka bakar pada kaki dan kepala. Dia juga telah menjenguk kedua korban untuk memastikan mereka mendapatkan penanganan medis yang diperlukan.
Saksi Mendengar Ledakan
Salah seorang kru Sisingaan, Enting (84), mengaku mendengar suara ledakan sesaat sebelum para korban berjatuhan. "Saya mendengar ada ledakan. Saya langsung loncat ke belakang, tidak tahu ternyata sudah banyak yang jatuh," katanya. Dia menjelaskan, dalam arak-arakan tersebut terdapat 11 Sisingaan yang diturunkan. Setiap Sisingaan diusung oleh empat orang dan diikuti kru pendukung serta penabuh gamelan.
Saksi mata sekaligus anggota Satlinmas Desa Mekarmukti, Pitung (70), mengatakan insiden terjadi sekitar pukul 16.00 WIB saat rombongan melintasi Jalan Kampung Cibeureum. Menurut dia, sebelum kejadian rombongan sempat beristirahat. Setelah salat Ashar, arak-arakan kembali dilanjutkan menuju rumah pemilik hajat khitanan. "Sebelumnya rombongan sempat beristirahat. Setelah Ashar kegiatan dilanjutkan dan saat hendak kembali ke rumah pemilik hajat khitanan, ada pemain yang terkena kabel listrik," ujarnya. Tak lama kemudian terdengar suara ledakan yang diduga berasal dari kabel listrik yang menjuntai rendah di lokasi. Setelah satu pemain tersengat listrik, beberapa pemain lainnya ikut menjadi korban. "Ada sekitar tujuh orang yang jatuh. Satu diduga meninggal dunia di lokasi, sedangkan yang lain tidak sadarkan diri. Kami langsung menghubungi ambulans desa untuk membawa mereka ke rumah sakit," kata Pitung.
Penyelidikan Polisi
Polisi kini masih mendalami keterangan para saksi dan hasil olah TKP guna memastikan kronologi lengkap kejadian tersebut. Tim Inafis Polres Metro Bekasi telah melakukan olah TKP untuk mengumpulkan petunjuk dan bukti awal di lokasi kejadian. Polisi juga berkoordinasi dengan PLN untuk memeriksa instalasi listrik di sekitar lokasi.



