Kisah Pilu Wanita Malaysia: 18 Tahun Hidup Susah di Lombok Akibat KDRT
Wanita Malaysia Derita 18 Tahun di Lombok Akibat KDRT

Kisah Pilu Wanita Malaysia: 18 Tahun Hidup Susah di Lombok Akibat KDRT

Seorang wanita Malaysia, Norida Akmal Ayob (45), akhirnya bisa kembali ke kampung halamannya setelah menghabiskan 18 tahun hidup dalam penderitaan di Lombok, Indonesia. Ia terpaksa menanggung derita akibat kekerasan dalam rumah tangga yang dialaminya dari suaminya yang merupakan warga negara Indonesia.

Perjalanan Panjang Penuh Derita

Norida mengungkapkan kisah pilunya kepada media Malaysia, Harian Metro, pada Minggu (15/2/2026). "Setelah belasan tahun terpaksa menahan rasa sakit akibat didera suami, saya bersyukur bisa kembali ke kampung halaman," ujarnya dengan penuh emosi. Pernyataannya ini menggambarkan betapa berat perjuangan yang harus ia lalui selama hampir dua dekade.

Wanita ini pertama kali tiba di Lombok pada bulan Ramadhan tahun 2007. Kepergiannya ke pulau yang terkenal dengan keindahan alamnya itu bukanlah atas kemauannya sendiri, melainkan atas permintaan suaminya yang berkewarganegaraan Indonesia. Sebelumnya, pasangan ini telah menikah di Thailand pada tahun 2005 dan dikaruniai anak pertama mereka di tahun yang sama.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Hidup Terpisah dari Keluarga

Selama 18 tahun berada di Lombok, Norida tidak hanya harus menghadapi kekerasan fisik dan emosional dari pasangannya, tetapi juga harus hidup terpisah dari keluarga besarnya di Malaysia. Kondisi ini semakin memperberat beban yang harus ia tanggung sendirian di tanah rantau.

Penderitaan yang berkepanjangan ini akhirnya berhasil diakhiri setelah pemerintah Malaysia turun tangan untuk memulangkannya ke negara asal. Proses pemulangan ini menjadi titik terang setelah bertahun-tahun hidup dalam kesengsaraan tanpa adanya perlindungan yang memadai.

Dampak Psikologis yang Mendalam

Pengalaman traumatis yang dialami Norida selama hampir dua dekade tentu meninggalkan luka psikologis yang dalam. Kisahnya ini menyoroti pentingnya perlindungan terhadap korban kekerasan dalam rumah tangga, terutama dalam konteks perkawinan lintas negara yang seringkali rentan terhadap berbagai masalah hukum dan sosial.

Meski telah kembali ke Malaysia, perjalanan pemulihan Norida masih panjang. Ia harus membangun kembali hidupnya setelah kehilangan 18 tahun masa muda yang dihabiskan dalam penderitaan di Lombok. Kisahnya ini menjadi pengingat betapa pentingnya sistem pendukung yang kuat bagi korban kekerasan domestik, baik di Indonesia maupun di Malaysia.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga