8 Fakta Lengkap Penyerangan Air Keras terhadap Aktivis KontraS Andrie Yunus
Teror air keras menimpa Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Andrie Yunus, saat berkendara di daerah Salemba, Jakarta Pusat, pada Kamis (12/3/2026) malam sekitar pukul 23.37 WIB. Peristiwa ini viral setelah video CCTV beredar di media sosial, menunjukkan dua pengendara motor berboncengan menyiram korban. Polisi telah bergerak cepat melakukan penyelidikan mendalam.
1. Disiram Usai Isi Podcast, Korban Alami Luka Bakar 24 Persen
Koordinator Badan Pekerja KontraS, Dimas Bagus Arya, menjelaskan bahwa penyerangan terjadi setelah Andrie Yunus mengisi podcast di Kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum (YLBHI) bertajuk 'Remiliterisme dan Judicial Review di Indonesia'. Korban segera dibawa ke rumah sakit dan mengalami luka bakar sebanyak 24 persen pada dada, wajah, dan tangan. Dimas menilai tindakan ini sebagai upaya membungkam suara kritis pembela HAM dan mendesak aparat penegak hukum menyelidiki secara menyeluruh.
2. Kapolri Beri Atensi Khusus, Polisi Lakukan Penyidikan Ilmiah
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo memberikan atensi khusus terhadap penanganan kasus ini. Kadiv Humas Polri Irjen Johnny Eddizon Isir menyatakan bahwa kasus ditangani oleh Polres Metro Jakpus dengan dukungan Polda Metro Jaya dan Bareskrim. Proses penyelidikan dilakukan secara berbasis ilmiah dan profesional untuk mengungkap pelaku serta motif di balik serangan.
3. Polisi Telusuri CCTV dan Periksa Saksi
Penyidik telah mengumpulkan bukti digital, termasuk rekaman CCTV, dan memeriksa saksi-saksi di sekitar lokasi kejadian. Setidaknya dua saksi telah dimintai keterangan awal, dengan potensi penambahan jumlah. Isir menegaskan bahwa seluruh personel penyidik bersungguh-sungguh menangani perkara berdasarkan Laporan Polisi Model A terkait dugaan tindak pidana penganiayaan berat.
4. Koalisi Sipil Kutuk dan Desak Pengungkapan Pelaku
Koalisi Masyarakat Sipil, termasuk KontraS dan Amnesty International Indonesia, mengutuk keras serangan ini. Mereka mendesak penegakan hukum yang serius dan akuntabel, menekankan bahwa peristiwa ini mencerminkan titik nadir demokrasi. Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia, Usman Hamid, menyoroti perlunya investigasi cermat tanpa terburu-buru menyimpulkan pelaku.
5. Novel Baswedan Kecam Pelaku sebagai Biadab
Mantan penyidik senior KPK, Novel Baswedan, menilai pelaku memiliki niat membunuh karena menyiram air keras ke area wajah, yang dapat menyebabkan gagal napas. Dia mendesak pengungkapan aktor intelektual dan meminta Presiden Prabowo Subianto memberikan perhatian serta dukungan kepada Polri untuk menghukum pelaku seberat-beratnya.
6. Menteri HAM Natalius Pigai Tolak Premanisme
Menteri HAM Natalius Pigai mengecam aksi penyiraman air keras, menegaskan bahwa negara tidak akan membiarkan premanisme. Dia menyatakan pemerintah prihatin dan meminta kepolisian mengusut tuntas kasus ini untuk memberikan rasa keadilan kepada korban dan keluarga.
7. Menko Yusril Minta Dalang Diungkap
Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi dan Pemasyarakatan, Yusril Ihza Mahendra, menegaskan bahwa serangan ini merupakan ancaman terhadap demokrasi dan HAM. Dia meminta Polri tidak hanya menangkap pelaku lapangan tetapi juga membongkar aktor intelektual di balik peristiwa yang terindikasi terencana dan terorganisir.
8. Respons Cepat dari Berbagai Pihak dan Dukungan untuk Korban
Berbagai tokoh, termasuk dosen UI Sulistyowati Irianto dan Ketua Umum YLBHI Muhammad Isnur, mengutuk serangan ini dan mendesak pengungkapan pelaku. Mereka menekankan bahwa pembela HAM kerap menjadi target kekerasan, dan negara harus melindungi hak-hak mereka. Polisi terus mendalami kasus dengan harapan dapat segera mengidentifikasi pelaku.
