Fenomena bediding, yang ditandai dengan suhu udara lebih dingin pada malam hingga menjelang pagi, mulai terasa di sejumlah wilayah Indonesia seiring berlangsungnya musim kemarau. Kondisi ini lazim terjadi setiap musim kemarau, terutama di dataran tinggi dan daerah dengan cuaca cerah.
Penjelasan BMKG tentang Bediding
Prakirawan Cuaca BMKG, Dina Ike, menjelaskan bahwa bediding bukanlah anomali cuaca atau fenomena cuaca ekstrem. Menurutnya, kondisi ini merupakan proses atmosfer yang terjadi secara alami dan berulang setiap musim kemarau. "Bediding adalah fenomena normal yang terjadi karena hilangnya panas dari permukaan bumi ke atmosfer pada malam hari saat langit cerah dan tidak ada awan," ujar Dina.
Penyebab Suhu Lebih Dingin
Pada musim kemarau, tutupan awan berkurang sehingga radiasi panas dari bumi lepas bebas ke angkasa. Akibatnya, suhu udara di permukaan turun drastis, terutama pada malam hingga pagi hari. Wilayah dataran tinggi seperti pegunungan dan lereng gunung lebih merasakan efek ini karena tekanan udara yang lebih rendah.
Dampak dan Tips Menghadapi Bediding
Masyarakat diimbau untuk menjaga kesehatan dengan mengenakan pakaian hangat dan mengonsumsi minuman hangat. Suhu dingin dapat memicu gangguan pernapasan jika tidak diantisipasi. Meski demikian, bediding tidak menimbulkan bahaya serius dan akan berlangsung hingga musim kemarau berakhir, sekitar September-Oktober.



