Perjuangan Wulan Melawan Glaukoma Kongenital Sejak Lahir
Putri Wulandari, yang akrab disapa Wulan, adalah putri bungsu dari pasangan Heni Amelia dan Sabar Riyadi. Gadis kecil ini telah didiagnosis menderita glaukoma kongenital sejak lahir, suatu kondisi langka yang menyebabkan bola mata kanannya lebih besar dan terlihat keruh dibandingkan dengan mata kirinya.
Deteksi Dini dan Perjalanan Medis yang Panjang
Menurut Heni, kondisi Wulan awalnya tidak diketahui hingga tetangga mereka mengomentari perbedaan pada bola mata sang anak. "Sekitar umur 3 bulan, anak tetangga saya bilang, mata dedek yang satu kayanya beda deh. Bapaknya sempat marah Wulan dibilang gitu, sampai saya nanya tetangga. Saya penasaran, akhirnya saya bikin BPJS dan periksain ke puskesmas," kenang Heni.
Pada usia 5 bulan, Wulan mulai sering bolak-balik rumah sakit untuk penegakan diagnosis dan tindakan medis. Setelah pemeriksaan di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Kirana UPK Mata, glaukoma kongenital akhirnya terkonfirmasi.
Dampak pada Kesehatan dan Perkembangan Wulan
Glaukoma yang dialami Wulan, kini berusia 2 tahun, menyebabkan bola matanya tak henti berair. Kondisi ini juga berdampak pada tumbuh kembangnya, dengan kemampuan berjalan dan berbicara yang terbatas. Wulan sering menangis karena rasa tidak nyaman di bola matanya.
Heni hampir selalu menggendong Wulan untuk menenangkannya. Selain itu, berat badan Wulan sulit naik karena nutrisi tidak terdistribusi dengan baik ke seluruh tubuhnya.
Operasi dan Proses Pemulihan yang Berlanjut
Dengan kesabaran dan tekad kuat, keluarga Wulan akhirnya menemukan jawaban. Wulan menjalani operasi untuk memperbaiki saluran air matanya, yang diharapkan dapat mengurangi tekanan dalam bola mata dan mempercepat penyembuhan.
Namun, operasi bukanlah akhir dari perjalanan ini. Wulan masih harus menjalani kontrol rutin untuk memastikan penglihatannya tetap baik, menyiapkan langkah jika fungsi mata menurun, dan memperbaiki kondisi kesehatannya secara umum sebelum dinyatakan pulih sepenuhnya.
Harapan di Tengah Keterbatasan Ekonomi
Memperjuangkan kesehatan Wulan bukanlah hal mudah bagi Heni dan Sabar yang memiliki keterbatasan ekonomi. Heni sebelumnya berprofesi sebagai penyedia jasa cuci dan setrika baju, tetapi harus berhenti karena kondisi Wulan. Sementara itu, Sabar bekerja sebagai sopir dan kuli bangunan dengan penghasilan yang tidak besar.
Meski menghadapi tantangan finansial, tempat tinggal yang sederhana, dan berbagai kondisi tidak ideal lainnya, keluarga ini tetap menunjukkan daya juang yang tinggi. Heni dan Sabar saling membantu demi kesehatan Wulan dan pendidikan ketiga putra mereka yang tidak boleh terbengkalai.
Ajak untuk Berbagi dan Mendukung
Heni yakin keluarganya dapat melalui semua cobaan ini dengan baik. Mari kita bantu menjaga semangat keluarga ini demi kesembuhan Wulan. Kepedulian dapat disampaikan melalui donasi di berbuatbaik.id, di mana 100% donasi tersalurkan. Selain itu, informasi terbaru juga dapat diakses melalui situs dan media sosial berbuatbaik.id.



