Dampak Air Tercemar Limbah Kimia pada Kulit Menurut Pakar Kesehatan
Dampak Air Tercemar Limbah Kimia pada Kulit

Dampak Air Tercemar Limbah Kimia Jika Terkena Kulit? Ini Kata Pakar

Pemerintah Kota Tangerang secara resmi mengeluarkan imbauan mendesak kepada seluruh masyarakat setempat. Warga diminta untuk sementara waktu tidak memanfaatkan air Sungai Cisadane untuk berbagai aktivitas sehari-hari. Larangan ini mencakup kegiatan mandi, mencuci pakaian dan peralatan, memasak, hingga konsumsi langsung sebagai air minum.

Sumber Pencemaran dari Kebakaran Pabrik Pestisida

Imbauan tersebut dikeluarkan sebagai respons langsung terhadap insiden pencemaran limbah kimia yang mencemari aliran Sungai Cisadane. Sumber pencemaran berasal dari kebakaran yang melanda sebuah pabrik pestisida di kawasan Serpong. Peristiwa ini menyebabkan lepasnya berbagai bahan kimia berbahaya ke lingkungan sekitar, termasuk ke badan air sungai.

Informasi resmi mengenai imbauan ini disebarluaskan oleh Pemerintah Kota Tangerang melalui akun Instagram resmi mereka pada hari Selasa, tanggal 10 Februari 2026. Pihak berwenang menekankan pentingnya kewaspadaan ekstra dari masyarakat dalam periode ini.

Risiko Kesehatan dari Paparan Limbah Kimia pada Kulit

Para pakar kesehatan dan lingkungan memberikan penjelasan mendetail mengenai potensi dampak air yang terkontaminasi limbah kimia jika terkena kulit manusia. Paparan langsung dapat menimbulkan berbagai reaksi negatif, tergantung pada jenis dan konsentrasi bahan kimia yang terkandung.

Beberapa efek yang mungkin terjadi meliputi:
  • Iritasi kulit yang ditandai dengan kemerahan, gatal-gatal, atau rasa perih yang tidak nyaman.
  • Reaksi alergi pada individu yang sensitif terhadap komponen kimia tertentu.
  • Potensi luka bakar kimia jika konsentrasi zat berbahaya sangat tinggi.
  • Resiko penyerapan zat beracun melalui kulit yang dapat mempengaruhi organ dalam tubuh.

Oleh karena itu, menghindari kontak dengan air yang tercemar merupakan langkah pencegahan paling efektif untuk melindungi kesehatan diri dan keluarga. Masyarakat diharapkan mencari sumber air alternatif yang aman dan terjamin kebersihannya selama masa pemulihan lingkungan berlangsung.