KOMPAS.com - Beragam saran kerap diberikan kepada orang yang ingin hidup lebih lama, mulai dari mengonsumsi sayuran, rutin berolahraga, tidak merokok, hingga menjaga hubungan sosial. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa tidak ada satu kebiasaan atau formula khusus yang dapat menjamin seseorang hidup hingga usia 100 tahun.
Kesimpulan tersebut diperoleh tim peneliti yang dipimpin ahli farmakologi dari American University in Cairo, Mesir, Shaima Ibrahim. Mereka meninjau 124 penelitian mengenai manusia berusia 100 tahun atau lebih yang dipublikasikan selama 55 tahun.
Perpaduan Faktor Penentu Umur Panjang
Hasil tinjauan yang diterbitkan dalam jurnal Discover Public Health itu menunjukkan, umur panjang terbentuk melalui perpaduan faktor genetik, kondisi biologis, gaya hidup, lingkungan, dukungan sosial, serta keberuntungan. Peneliti menyimpulkan bahwa tidak ada satu pun faktor tunggal yang dominan.
Menurut Ibrahim, "Panjang umur tidak bisa direduksi menjadi satu resep sederhana. Ini adalah interaksi kompleks antara berbagai faktor yang saling memengaruhi." Studi ini menekankan bahwa genetika memainkan peran penting, namun gaya hidup sehat tetap berkontribusi signifikan.
Implikasi bagi Masyarakat
Temuan ini mengubah paradigma bahwa umur panjang semata-mata hasil dari kebiasaan baik. Sebaliknya, faktor keberuntungan dan lingkungan juga tidak kalah penting. Para ilmuwan berharap penelitian ini mendorong pendekatan holistik dalam upaya memperpanjang harapan hidup.



