Krisis Mental Siswa India di Tengah Persaingan Ujian Ekstrem
Krisis Mental Siswa India di Tengah Ujian Ekstrem

Ketika Nelima Patel yang berusia 18 tahun duduk untuk mengikuti kembali ujian masuk kedokteran di National Eligibility cum Entrance Test (NEET) di kota Ahmedabad, India bagian barat, ia sudah merasa sangat lelah bahkan sebelum ujian dimulai. Ujian yang semula digelar pada awal Mei 2026 itu dibatalkan setelah muncul dugaan kebocoran soal. Patel pun harus kembali mempersiapkan diri dari awal, di tengah ketidakpastian, kelelahan, dan kecemasan yang terus membebani.

"Secara mental itu sangat melelahkan, tetapi saya harus tetap fokus saat mengerjakan ujian," kata Patel kepada DW. "Terlalu banyak persiapan yang harus saya lalui." Ia juga menambahkan bahwa hanya beberapa hari sebelumnya, seorang siswa yang ia kenal meninggal dunia karena bunuh diri. "Semuanya terasa sangat menyedihkan," ujarnya.

Generasi yang Hidup di Bawah Tekanan Tanpa Henti

Hampir di seluruh India, ribuan siswa kembali menghadapi situasi yang hampir sama. Situasi yang seharusnya menjadi puncak dari bertahun-tahun persiapan, tiba-tiba berubah menjadi periode penuh ketidakpastian setelah ujian awal dibatalkan. Akhir pekan ini, lebih dari dua juta calon mahasiswa kedokteran kembali mengikuti ujian NEET di berbagai pusat ujian di seluruh negeri. Pelaksanaannya dilakukan dengan pengamanan ketat, mulai dari autentikasi wajah, pemeriksaan biometrika, hingga penggunaan ribuan alat pengganggu sinyal untuk mencegah kecurangan.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Namun di balik ketatnya pengawasan itu, tekanan yang dihadapi para peserta tetap sangat besar. India hanya menyediakan sekitar 130.000 kursi pendidikan kedokteran sarjana yang tersebar di lebih dari 800 fakultas kedokteran, sementara tahun ini ada 2,27 juta peserta yang bersaing dalam ujian NEET. Artinya, hanya sekitar satu dari 17 peserta yang berhasil memperoleh kursi di sekolah kedokteran. Bagi banyak siswa dan keluarga, angka-angka itu bukan sekadar statistik, melainkan sumber tekanan yang nyata.

"Tidak adil membuat anak-anak menjalani proses yang begitu menyiksa," kata Rukmini Madhavan, orang tua dari Mahesh yang juga kembali mengikuti ujian tersebut. "Kalau mereka tidak lolos ambang nilai, masalahnya jadi berlapis dan bisa berdampak pada kesehatan mental," ujarnya.

Tekanan Mental Pelajar yang Meningkat

Tekanan emosional yang menyertai ujian NEET kembali menyingkap kenyataan yang lebih besar dan mengkhawatirkan, apakah benar persoalan krisis kesehatan mental meningkat di kalangan pelajar di India? Namun, data yang justru mengkhawatirkan, dilaporkan ada 12 calon peserta NEET yang meninggal dunia akibat bunuh diri dalam beberapa hari sejak kontroversi ujian ini mencuat. Sebagian dari mereka meninggalkan catatan yang menjelaskan tekanan berat yang mereka alami, sementara yang lain sebelumnya telah mengungkapkan kecemasan menghadapi satu putaran lagi persiapan dan ujian.

Kematian mereka kembali memunculkan pertanyaan tentang sistem pendidikan yang membuat segelintir ujian menjadi penentu akses ke universitas, karier, dan bagi banyak orang, masa depan keluarga. Banyak dari para siswa ini berasal dari latar belakang ekonomi rendah atau pedesaan, di mana orang tua harus mengambil pinjaman pribadi dalam jumlah besar, menjual tanah, atau menguras tabungan untuk membiayai bertahun-tahun biaya bimbingan belajar yang mahal.

Masalah yang Lebih Luas dari Satu Kasus

Kasus bunuh diri di India tidak hanya terjadi di kalangan peserta NEET. India mencatat 14.488 kasus bunuh diri di kalangan pelajar pada 2024, menurut data terbaru Biro Catatan Kejahatan Nasional (National Crime Records Bureau) yang dirilis bulan lalu. Para pelajar menyumbang 8,5% dari total kasus bunuh diri di negara tersebut dan menjadi kategori profesi terbesar kelima di antara para korban. Angka itu meningkat 4,3% dibanding tahun sebelumnya, melanjutkan tren kenaikan selama satu dekade terakhir yang memicu kekhawatiran di kalangan pakar kesehatan mental, pendidik, dan pembuat kebijakan.

"Kami telah menciptakan budaya di mana kesuksesan dirayakan dengan cara yang sangat sempit, sementara kegagalan sering kali distigmatisasi," kata neuropsikiater Anjali Nagpal kepada DW. "Ini lebih dari sekadar peringatan, karena bisa membuat anak muda merasa terjebak di antara ekspektasi dan kenyataan," ujarnya.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga

Ekosistem Pendidikan yang Sangat Kompetitif

Para siswa menghabiskan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun untuk mempersiapkan ujian masuk seperti NEET, JEE, serta berbagai ujian rekrutmen pemerintah. Remaja di berbagai wilayah India sering kali harus pindah ke kota-kota yang dikenal sebagai pusat bimbingan belajar, seperti Kota di Rajasthan. Di sana, mereka masuk ke lingkungan yang didominasi peringkat, ujian simulasi, batas nilai kelulusan, dan persaingan yang tanpa henti.

"Tekanan untuk berhasil sangat besar. Kegagalan bisa berarti satu tahun lagi biaya bimbingan belajar, satu tahun lagi ketidakpastian, dan satu tahun lagi untuk mencoba," kata mahasiswa di Delhi, Jagdish Kumar, kepada DW. Tekanan ini semakin berat karena ekspektasi orang tua, pengorbanan finansial keluarga, serta keyakinan luas bahwa satu ujian bisa menentukan arah seluruh hidup seseorang.

Pakar pendidikan Apoorvanand Jha menilai krisis dalam ujian nasional ini memiliki kelemahan mendasar yang berakar pada obsesi struktural yang tidak sehat. "Memaksa negara sebesar India ke dalam sistem ujian nasional yang sangat tersentralisasi dan hanya sekali kesempatan tidak meningkatkan standar," ujarnya kepada DW. "Sebaliknya, ini menciptakan titik kegagalan tunggal yang sangat rentan dan dapat membahayakan masa depan jutaan siswa, serta menunda kalender universitas dan tahun akademik secara keseluruhan," kata Jha.

Peringatan dari Lembaga Peradilan Tertinggi India

Mahkamah Agung India semakin sering menyampaikan keprihatinan atas apa yang mereka sebut sebagai pola krisis kesehatan mental pelajar yang kian memburuk. Dalam sejumlah pernyataannya, lembaga peradilan tertinggi itu mengidentifikasi adanya "pola yang mengkhawatirkan" dalam kasus bunuh diri pelajar di berbagai institusi pendidikan, dan mengingatkan agar kasus-kasus tersebut tidak dipandang sebagai peristiwa yang berdiri sendiri. Sebuah gugus tugas nasional yang dibentuk atas perintah pengadilan dan dipimpin oleh mantan hakim Mahkamah Agung juga mengidentifikasi sejumlah faktor yang mendorong krisis ini. Di antaranya persaingan akademik yang ekstrem, diskriminasi berbasis kasta, tekanan finansial, lemahnya sistem penanganan pengaduan, serta terbatasnya akses terhadap layanan kesehatan mental.

Kontroversi Ujian yang Kini Jadi Isu Politik

Kematian para pelajar ini kini menjadi titik kumpul bagi gerakan Cockroach Janta Party (CJP), sebuah gerakan anak muda yang bermula dari kampanye satire di internet, namun dengan cepat berkembang menjadi salah satu fenomena politik yang banyak diperbincangkan di India. CJP masih menggelar aksi sit-in atau aksi duduk di Ibu Kota New Delhi. Mereka memanfaatkan kontroversi NEET, dengan menilai bahwa berbagai ketidakteraturan ujian dan kegagalan administrasi telah mengikis kepercayaan terhadap sistem yang menjadi tumpuan jutaan siswa untuk mobilitas sosial.

Ketua CJP, Abhijeet Dipke, mendesak pemerintah Perdana Menteri Narendra Modi untuk memberikan kompensasi sebesar 10.000.000 rupee (sekitar 1,89 miliar rupiah) kepada keluarga siswa yang diduga meninggal dunia karena bunuh diri dalam konteks kontroversi ujian. "Sebagian keluarga ini harus mengambil pinjaman untuk menyekolahkan anak mereka. Kita hanya bisa membayangkan apa yang mereka alami," kata Dipke, yang partainya juga menuntut pengunduran diri Menteri Pendidikan Dharmendra Pradhan. Gerakan ini berawal dari respons terhadap pernyataan seorang pejabat senior pemerintah yang membandingkan sebagian anak muda pengangguran dengan "kecoak". Kampanye daringnya kemudian mendapat resonansi di kalangan generasi muda yang menghadapi tingginya pengangguran, skandal ujian, dan meningkatnya ketidakpastian ekonomi.

Menarik Perhatian Publik pada Masalah Ini

Kontroversi NEET juga memperkuat kekhawatiran yang lebih luas tentang masa depan yang semakin ditentukan oleh segelintir ujian penentu nasib. Bagi Kumar, yang sedang mempersiapkan ujian tahun depan, persoalan ini bukan semata soal politik, melainkan lebih pada dampak emosional dari sistem pendidikan yang keras dan tidak memberi ruang. "Ini adalah seleksi alam, dan memang seperti itu sistemnya," pungkasnya.

Jika Anda mengalami tekanan emosional yang berat atau memiliki pikiran untuk bunuh diri, jangan ragu untuk mencari bantuan profesional. Informasi layanan bantuan di Indonesia dapat ditemukan di: www.healing119.id. atau Hotline 119 untuk cepat tanggap darurat dan situasi kritis.