Kementerian Sosial (Kemensos) memberikan dukungan penuh terhadap produksi film pendek yang mengangkat tema Sekolah Rakyat. Film berdurasi sekitar 25 menit ini digagas oleh platform Penjaga Harapan sebagai media penyampaian nilai dan pesan program kepada masyarakat. Wakil Menteri Sosial (Wamensos) Agus Jabo menegaskan bahwa proyek ini harus berhasil dan tidak sekadar produksi, melainkan bagaimana masyarakat bisa melihat bahwa negara hadir dan memberi harapan.
Kolaborasi Pemerintah dan Komunitas Film
Pemerintah berkolaborasi dengan platform Penjaga Harapan dalam mempersiapkan film yang berlatar wilayah Cariu dan sekitarnya. Film ini menuturkan transformasi kehidupan seorang anak yang mendapat kesempatan keluar dari kondisi miskin ekstrem melalui program Sekolah Rakyat. Mengusung pesan "dari gelap menuju terang", film ini menggarisbawahi harapan baru bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera, akses pendidikan tanpa hambatan ekonomi dan zonasi, pembentukan karakter, keterampilan, dan kepercayaan diri, hingga peran negara dalam mendukung masyarakat miskin.
Dalam audiensi bersama perwakilan Kementerian Sekretariat Negara dan tim kreatif Penjaga Harapan di Kantor Kementerian Sosial, Selasa (23/6), Agus Jabo menyatakan dukungan penuh. "Kalau ini kita mulai, harus berhasil. Ini bukan sekadar produksi, tapi bagaimana masyarakat bisa melihat bahwa negara hadir dan memberi harapan," kata Agus. Ia menyebut Kemensos siap menyediakan dukungan yang diperlukan dalam proses produksi, termasuk akses lokasi, data, serta koordinasi dengan unit terkait.
Sekolah Rakyat sebagai Alat, Bukan Tujuan Akhir
Dalam pertemuan tersebut, Agus menegaskan bahwa Sekolah Rakyat merupakan instrumen negara untuk membuka akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera, bukan tujuan akhir. "Sekolah Rakyat ini bukan tujuan, tapi alat yang disediakan negara agar anak-anak dari keluarga miskin bisa mewujudkan cita-citanya dan keluarganya bisa tergraduasi dari kemiskinan," ujarnya. Pernyataan ini menegaskan komitmen pemerintah dalam pengentasan kemiskinan melalui pendidikan.
Pada audiensi yang dihadiri Direktur Utama Penjaga Harapan Wildanshah, Direktur Perkumpulan Warga Muda I Putu Arya, Art Director Maulana Wedy Irkham, Sutradara Bethap Virga Kiswanata, serta Produser Kiky Malik, Doni Adhitia selaku Koordinator Konten Penjaga Harapan mengatakan bahwa proyek ini merupakan kerja kolaboratif untuk membawa nilai program ke ruang publik. "Kami berharap film ini menjadi kerja bersama untuk membawa nilai ideologis Sekolah Rakyat kepada masyarakat. Ini bukan sekadar cerita, tapi upaya menghadirkan empati dan pemahaman bahwa program ini benar-benar menyentuh kehidupan masyarakat," ujar Doni.
Pendekatan Dramatik Tanpa Eksploitasi
Direktur Utama Penjaga Harapan, Wildanshah, menyampaikan bahwa inisiatif ini penting sebagai jembatan komunikasi kebijakan kepada publik. Film ini direncanakan diproduksi dengan pendekatan dramatik yang menonjolkan transformasi dari keterbatasan menuju harapan, tanpa mengeksploitasi penderitaan. "Kami melihat film ini sebagai bagian dari upaya menyampaikan program pemerintah secara lebih membumi dan mudah dipahami masyarakat. Substansi program tetap milik negara, dan pendekatan kreatif seperti ini menjadi pelengkap untuk memperluas jangkauan pesan," katanya.
Nantinya, akan dipersiapkan juga trailer film berdurasi sekitar 30 detik untuk didistribusikan ke berbagai kanal publik seperti videotron. Produksi direncanakan berjalan selama tiga hari dengan pendekatan berbasis riset, serta konsultasi bersama Kemensos dan komunitas film. Produksi film ini diharapkan dapat memperluas keterlibatan komunitas perfilman dalam menyampaikan program strategis pemerintah, serta memperkuat pemahaman publik bahwa peningkatan kualitas sumber daya manusia merupakan kunci pengentasan kemiskinan.



