Pemberian ASI eksklusif sejak bayi baru lahir sangat dianjurkan karena merupakan sumber nutrisi terbaik bagi tumbuh kembangnya. Namun, sebagian ibu mungkin tidak dapat menyusui dengan lancar karena berbagai kendala maupun tantangan. Dalam kondisi tertentu, susu formula dapat menjadi alternatif untuk memenuhi kebutuhan nutrisi bayi.
Kapan Bayi Boleh Diberi Susu Formula?
Menurut rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), bayi sebaiknya hanya mendapat ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan. Setelah itu, MPASI dapat diberikan, namun ASI tetap dilanjutkan hingga usia dua tahun atau lebih. Susu formula baru boleh diberikan jika ada indikasi medis yang jelas, seperti:
- Ibu memiliki kondisi kesehatan yang menghalangi menyusui, seperti infeksi HIV, TBC aktif, atau sedang menjalani kemoterapi.
- Produksi ASI tidak mencukupi meskipun sudah dilakukan upaya maksimal.
- Bayi memiliki kondisi khusus seperti galaktosemia atau intoleransi laktosa.
- Ibu harus berpisah dengan bayi dalam waktu lama dan tidak bisa memerah ASI.
Aturan Pemberian Susu Formula yang Tepat
Jika susu formula terpaksa diberikan, perhatikan hal-hal berikut:
- Konsultasi dengan dokter untuk menentukan jenis formula yang sesuai dengan usia dan kondisi bayi.
- Ikuti petunjuk penyajian pada kemasan, termasuk takaran air dan bubuk yang benar.
- Gunakan air matang yang telah didinginkan hingga suhu sekitar 70 derajat Celsius untuk membunuh bakteri.
- Jangan menyimpan sisa susu yang sudah diminum; buang setelah satu jam.
- Sterilkan botol dan dot sebelum digunakan.
Risiko Pemberian Susu Formula
Pemberian susu formula juga memiliki risiko, antara lain:
- Meningkatkan risiko infeksi saluran cerna dan alergi.
- Kandungan nutrisi tidak sempurna seperti ASI, misalnya kurang antibodi dan faktor pertumbuhan.
- Biaya yang lebih tinggi dibandingkan ASI.
- Potensi kesalahan dalam penyajian yang dapat menyebabkan malnutrisi atau gangguan elektrolit.
Oleh karena itu, keputusan memberikan susu formula harus dipertimbangkan matang-matang dan sebaiknya dengan bimbingan tenaga kesehatan. ASI tetap menjadi pilihan utama untuk kesehatan optimal bayi.



