Dokter spesialis anak subspesialis respirologi, dr. Wahyuni Indawati, Sp.A, Subsp. Respi (K), mengingatkan orangtua agar tidak langsung memberikan nebulisasi atau terapi inhalasi setiap kali anak mengalami batuk. Menurut Wahyuni, penggunaan nebulizer harus disesuaikan dengan penyebab batuk yang dialami anak. Tidak semua batuk membutuhkan terapi tersebut.
Nebulisasi Tidak untuk Semua Batuk
“Apakah semua anak batuk kemudian harus dinebu? Jawabannya tidak sebenarnya. Tergantung dari sakit batuknya itu kenapa,” kata Wahyuni, yang berpraktik di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), dalam acara “OMRON” di Jakarta, Kamis (2/7/2026).
Wahyuni menjelaskan, nebulisasi atau terapi inhalasi merupakan metode pemberian obat yang langsung ditujukan ke organ sasaran, yakni sistem pernapasan. Metode ini efektif untuk kondisi tertentu seperti asma, bronkiolitis, atau pneumonia, namun tidak diperlukan untuk batuk biasa akibat infeksi virus ringan.
Risiko Penggunaan Nebulizer yang Tidak Tepat
Penggunaan nebulizer tanpa indikasi medis yang jelas dapat menimbulkan efek samping, seperti iritasi saluran napas atau resistensi obat jika digunakan terlalu sering. Orangtua disarankan berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu sebelum memberikan terapi inhalasi pada anak.
“Konsultasikan dengan dokter anak untuk mengetahui penyebab batuk dan penanganan yang tepat,” imbuh Wahyuni. Ia juga menekankan pentingnya diagnosis yang akurat agar pengobatan sesuai dan tidak berlebihan.



