Warga Muara Gembong Butuh Ambulans Air untuk Akses Puskesmas Saat Banjir Rob
Sebuah ambulans air menjadi kebutuhan mendesak bagi masyarakat Desa Pantai Mekar, Kecamatan Muara Gembong, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Warga yang mayoritas bekerja sebagai nelayan atau pemilik pemancingan ini mengalami kesulitan besar dalam mengakses puskesmas atau fasilitas kesehatan lainnya ketika banjir rob melanda wilayah mereka.
Kondisi Darurat Kesehatan Saat Banjir
"Kami benar-benar bingung setiap kali banjir rob datang. Banyak warga yang sakit tidak mendapatkan penanganan medis, ada yang harus melahirkan di jalan, bahkan beberapa kasus berakhir dengan kematian. Kehadiran ambulans air akan sangat membantu evakuasi warga ke puskesmas. Harapan kami sangat besar untuk memiliki kendaraan khusus ini," ungkap Amin Syaefudin, relawan dari berbuatbaik.id di Muara Gembong.
Menurut Amin, banjir rob dapat berlangsung lebih dari tiga hari dan terjadi beberapa kali dalam sebulan. Situasi ini sangat berisiko bagi penduduk dengan kondisi kesehatan kronis seperti tekanan darah tinggi, diabetes, atau penyakit lain yang memerlukan kontrol rutin. Mereka seringkali tidak dapat memperoleh obat atau pemeriksaan medis, sehingga kondisi kesehatan mereka semakin memburuk.
Amin menjelaskan bahwa saat ini warga bergotong royong mengangkat pasien yang membutuhkan penanganan medis selama banjir rob. Pasien dibawa ke area yang lebih tinggi sebelum akhirnya dapat diantar ke puskesmas. Metode ini jauh dari ideal, terutama untuk pasien lansia atau ibu hamil dengan kandungan besar.
Jarak dan Tantangan Evakuasi
Namun, tidak ada alternatif lain yang dapat dilakukan ketika banjir rob menerjang desa. Sebagai gambaran, jarak antara Desa Pantai Mekar dan Puskesmas Muara Gembong sekitar 7 kilometer. Sementara itu, jarak dari desa ke dermaga terdekat untuk penjemputan pasien kurang lebih 1 kilometer.
Kondisi Lingkungan Desa Pantai Mekar
Desa Pantai Mekar merupakan salah satu kawasan di Kabupaten Bekasi yang terkena dampak abrasi dan sedimentasi sungai. Abrasi telah mengikis garis pantai hingga memaksa warga pindah ke lokasi yang lebih tinggi. Fenomena ini disebabkan oleh perubahan ekosistem mangrove menjadi area budidaya tambak.
Abrasi dan sedimentasi juga diperparah oleh aktivitas tongkang batu bara yang berlabuh di pelabuhan sekitar Muara Gembong. Menurut Ketua Kelompok Usaha Bersama (KUB) Kerang Dara, Abdul Aziz, tongkang-tongkang tersebut memerlukan kapal keruk lumpur untuk memperdalam perairan tempat mereka berlabuh.
"Dari situ lumpur terbawa ke sini, akibatnya sungai di daerah kami tidak lagi dalam," kata Aziz, yang juga merupakan warga Desa Pantai Mekar.
Menurut Aziz, abrasi dan sedimentasi telah menenggelamkan sekitar 200 hektar wilayah Muara Gembong. Kawasan yang disebut sebagai kampung hilang ini awalnya dihuni seperti RT lainnya. Namun, seiring menyusutnya area dan naiknya permukaan air laut, warga terpaksa meninggalkan rumah mereka.
Aziz menambahkan bahwa hingga saat ini belum ada perintah relokasi resmi untuk warga Muara Gembong. Masyarakat masih bertahan karena di sanalah tempat mereka bekerja dan menjalani kehidupan sehari-hari. Warga Pantai Mekar terus berusaha bertahan dengan segala sumber daya yang mereka miliki.
Seruan untuk Kepedulian
Kondisi warga Desa Pantai Mekar di Muara Gembong sangat memerlukan perhatian dari semua pihak. Mari salurkan kepedulian melalui platform berbuatbaik.id untuk mendukung kehidupan dan evakuasi warga yang lebih baik. Informasi terbaru dapat diikuti melalui website dan media sosial berbuatbaik.id.



