Mengenal Hantavirus: Gejala, Penularan, dan Pencegahan
Mengenal Hantavirus: Gejala, Penularan, dan Pencegahan

Belakangan ini, perbincangan mengenai Hantavirus kembali mencuat setelah adanya laporan kasus kematian di kapal pesiar mancanegara. Meskipun Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa risiko penyebaran secara global masih rendah, kewaspadaan tetap diperlukan.

Apa Itu Hantavirus?

Hantavirus bukanlah virus baru. Menurut unggahan akun Instagram Kementerian Kesehatan RI (@kemenkes_ri), virus ini umumnya menular melalui kontak dengan tikus atau celurut yang terinfeksi, urine atau kotorannya, serta debu yang terkontaminasi (inhalasi aerosol). Penyakit ini muncul dalam dua bentuk klinis di dunia, yaitu:

  • HFRS (Haemorrhagic Fever With Renal Syndrome) yang merusak ginjal dan tersebar di Eropa dan Asia, termasuk Indonesia.
  • HPS (Hanta Pulmonary Syndrome) yang menyerang sistem pernapasan dan tersebar di Amerika.

Situasi Terkini Virus Hanta

Sejak tahun 2015 hingga 2026, kasus Hanta tipe HFRS dan HPS telah tersebar di beberapa wilayah, seperti Eropa (Finlandia, Jerman, Swedia), Amerika (Chili, Argentina, Panama), serta Asia (Korea Selatan, China, Taiwan). WHO menilai risiko penyebaran di tingkat global rendah, namun sedang untuk lingkungan kapal pesiar. WHO tidak merekomendasikan pembatasan perjalanan atau perdagangan.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Situasi di Indonesia

Kementerian Kesehatan mengungkapkan bahwa kasus Hantavirus di Indonesia sejauh ini merupakan tipe HFRS yang menyerang ginjal, dengan total 23 kasus terkonfirmasi di 9 provinsi. Virus Hanta tipe HPS belum pernah dilaporkan di Indonesia. Masyarakat diimbau tetap tenang karena kasus fatalitas yang terjadi dipastikan akibat infeksi penyerta, bukan murni akibat virus Hanta. Risiko importasi kasus HPS tetap ada, namun risiko penambahan kasus HFRS lebih tinggi.

Cara Pencegahan Virus Hanta

Masyarakat dapat melakukan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) melalui langkah-langkah berikut:

  • Rajin cuci tangan pakai air mengalir dan sabun atau menggunakan hand sanitizer.
  • Terapkan etika batuk dan bersin.
  • Lakukan metode wet cleaning; selalu gunakan kain pel basah saat membersihkan debu untuk mencegah partikel virus berterbangan dan terhirup.
  • Simpan makanan dengan aman menggunakan wadah tertutup rapat.
  • Tutup akses tikus; pastikan tidak ada celah atau lubang yang memungkinkan tikus masuk ke dalam rumah.
  • Segera periksakan diri ke fasilitas layanan kesehatan terdekat jika mengalami gejala setelah beraktivitas di area berisiko tinggi.

Gejala yang Perlu Diwaspadai

Gejala dapat muncul setelah masa inkubasi. Untuk HFRS, gejala muncul 1-2 minggu setelah terpapar, meliputi demam tinggi, sakit kepala, nyeri badan dan lemas, serta ikterik/jaundice (tubuh menguning). Untuk HPS, gejala muncul 1-8 minggu setelah terpapar, meliputi demam, nyeri badan dan lemas, batuk, dan sesak napas. Informasikan riwayat faktor risiko, termasuk perjalanan, kepada tenaga kesehatan.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga